Kota Bogor dalam Tarik Menarik Kekuatan Lokal dan Regional

Pendahuluan

Kota bukanlah lingkungan buatan manusia yang dibangun dalam waktu singkat tetapi merupakan lingkungan yang dibentuk dalam waktu yang relatif panjang. Kondisi wilayah perkotaan sekarang ini merupakan akumulasi dan setiap tahap perkembangan yang terjadi sebelumnya dan dipengaruhi oleh berbagai macam faktor.

Dapat pula dikatakan bahwa kota merupakan sebuah artefak urban yang kolektif dan pada proses pembentukannya mengakar dalam budaya masyarakat setempat (Rapoport, 1977).

Kostof (1991) menjelaskan kota sebagai leburan dari bangunan dan penduduk. Bentuk kota pada awalnya adalah netral tetapi kemudian berubah sampai dipengaruhi dengan budaya tertentu. Produk morfologi kota merupakan hasil evolusi sejarah kehidupan yang ditentukan oleh dua keputusan.

Yang pertama oleh perencana dan yang kedua oleh proses perkembangan kota (urban process). Keputusan perencana dapat dilakukan melalui suatu kelembagaan baik secara otoriter maupun demokrasi.

Sedang perkembangan kota ditentukan oleh proses keputusan semua aktor pembangunan kota yang beragam dan terus berlangsung sebagai suatu “pasage of time and daily life”, yang dapat berada di luar skenario keputusan atau perencanaan formal (Kostof, dalam Soetomo, 2009).

Kota adalah sebuah tempat di mana orang-orang di dalamnya mengidentifikasi diri mereka dengan lokasinya. Sebuah kota merupakan kumpulan tempat yang mempunyai berbagai penanda dan kenangan masing masing.

Pendahuluan

Saat manusia belajar, dia akan mencerna penanda dari lingkungannya dan mengingatnya terus menerus. Hal ini dapat menjelaskan mengapa manusia dapat mempunyai keterikatan yang erat dengan daerah asalnya, karena telah belajar untuk mengingat dalam rentang waktu yang cukup lama.

Kota menjadi kumpulan memori karena merupakan wadah dari fungsi hidup manusia yang merekam siklus dan daur hidup manusia (Carmona, 2003). Kota-kota di Jawa berkembang dengan sangat pesat terutama setelah awal abad ke 20.

Hal ini disebabkan karena perkembangan penduduk yang sangat cepat akibat besarnya urbanisasi yang terjadi pada kota-kota di Jawa dari tahun ke tahun. Pusat kota pada kota-kota di Jawa terus berubah sesuai dengan perkembangan zaman.

Keadaan sosial, budaya, politik, serta sejarah masa lalu sebuah kota sangat berpengaruh pada kawasan-kawasan di perkotaan. Setelah tahun 1980-an terjadi gejala pemekaran yang tidak terkontrol pada kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Surabaya, Bandung, Malang, dan lain-lain, yang disinyalir oleh McGee (1991) sebagai akibat dari terjadinya proses pergeseran fungsi pusat kota dari pusat pemerintahan menjadi pusat kegiatan jasa dan keuangan.

Secara fisik restrukturisasi ini ditandai dengan perubahan penggunaan lahan secara besar-besaran, karena munculnya lokasi-lokasi industri di tepi kota yang kemudian disusul dengan munculnya daerah perumahan baru.

Terjadilah istilah mega urban pada kota-kota seperti Jakarta (Jabotabek), Surabaya (Gerbangkertasusila), dan Semarang (Kedungsepur).

Susunan kota-kota tradisional dipengaruhi oleh beberapa faktor yang membatasi pola susunannya, yaitu keamanan dan persatuan, keterbatasan bahan dan teknologi, keterbatasan mobilitas, struktur sosial yang kaku, serta perkembangan yang agak lambat.

Pendahuluan

Faktor-faktor ini sangat menentukan penataan kota-kota lama. Susunan kota yang dianggap modern tidak lagi dipengaruhi oleh batasan tertentu seperti pada kota tradisional. Hal itu disebabkan oleh ketidakterbatasan komunikasi dan pengaruh pada masyarakat secara individual mengenai ide-ide baru, ketidakterbatasan teknologi, serta ketidakterbatasan mobilitas yang mengarah pada perluasan dan kepadatan
kawasan kota (Zahnd, 1999).

Banyak kota-kota di Indonesia yang telah memiliki identitas kota yang kuat sebagai akibat dari proses perkembangan kota tersebut. Kota-kota besar di Indonesia secara umum mengalami alur sejarah perkembangan yang hampir sama.

Berawal dari kota tradisional (kerajaan), berkembang pada masa kolonial, dan setelah masa kemerdekaan menghadapi era modernisasi dan globalisasi. Permasalahan yang dihadapi saat ini adalah perkembangan kota-kota di Indonesia menjadi kota metropolitan yang pengaruhnya berdampak luas kota-kota satelit di sekitarnya.

Perkembangan kota Bogor ini merupakan suatu hal yang perlu dicermati terutama berkaitan dengan perkembangan identitas kota pada kota-kota regional (regional city) di Indonesia pada masa yang akan datang.

Peninggalan Sejarah Kota Bogor sebagai Kekuatan Lokal

Kota Bogor dahulu bernama Pakuan, merupakan ibu kota pemerintahan Kerajaan Pajajaran. Daerah ini menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi yang dinobatkan pada 3 Juni 1482. Hari penobatannya ini diresmikan sebagai hari jadi kota Bogor dan diperingati setiap tahunnya hingga saat ini.

Selain itu, senjata khas kerajaan Pajajaran yaitu Kujang dijadikan lambang kota Bogor dan dijadikan Landmark kota dalam bentuk Monumen Kujang. Bogor merupakan salah satu kota pedalaman terpenting di era kolonial, mengingat Bogor (dahulu Buitenzorg) pernah berfungsi sebagai ibu kota pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu sejak Gubernur Jenderal Van Alting (1780).

Bogor mula-mula dibentuk dengan penguasaan dan pengolahan lahan perkebunan yang dikelola tuan tanah yang akhirnya berkembang setelah dihubungkan Jalan Raya Pos (Groote Postweg) yang dibangun mulai 1811 oleh Daendels dan belakangan oleh jalur kereta api (Batavia-Buitenzorg) pada 1873.

Banyak artifak fisik kota yang dibangun pada masa kolonial ini, salah satunya adalah istana Bogor (dulu bernama vila Buitenzorg) yang didirikan atas prakarsa Gubernur Jenderal GW Baron van Imhoff.

Bangunan ini juga sempat berfungsi sebagai kantor resmi Gubernur Jenderal VOC maupun Gubernur Jenderal Hindia Belanda hingga pada akhirnya dijadikan Istana Kepresidenan RI.

Halaman istana Buitenzorg tersebut dibangun menjadi Kebun Raya (Botanical Garden) oleh seorang ahli Botani Jerman yaitu Prof.R.C.Reinwardth dan diresmikan sebagai Kebun Raya Bogor pada tahun 1887.

Dengan luas 87 Ha Kebun Raya Bogor saat ini menjadi kebun raya terbesar di Asia Tenggara dan merupakan artifak alam yang menjadi ciri khas kota Bogor.

Struktur kawasan pecinan Bogor terbentuk di sepanjang Jalan Suryakencana (dulu dinamakan Handelstraat atau Jalan Perniagaan sesuai dengan fungsinya sebagai sentra ekonomi kota) yang terletak tepat di antara dua sungai (Ciliwung di timur dan Cipakancilan di barat).

Masyarakat Cina yang terkotak-kotak dalam kelas sosial menempati hunian sesuai kelas mereka. Golongan pedagang berkumpul di sekitar Pasar Bogor, sedangkan golongan bawah menghuni ruko sewa dan rumah petak di balik ruko. Golongan elite cenderung menghuni bagian selatan.

Rumah mereka biasanya mencirikan gaya hidup yang kebarat-baratan: menggunakan ragam bentukan bangunan Belanda dan menghuni rumah tipe vila. Masyarakat pribumi sebenarnya tidak memiliki konsentrasi atau domain khusus seperti halnya masyarakat Eropa dan Cina karena absennya kekuasaan lokal di kawasan partikelir ini meleluasakan pemerintah kolonial untuk mengembangkan daerah ini sesuai dengan keinginan mereka.

Akan tetapi, Demang Wiranata (1749-1758) mengajukan permohonan kepada Gubernur Jenderal untuk membuka lahan di Sukahati (Empang, dahulu masih pekarangan Istana Bogor) untuk dikelola.

Kota Bogor Sebagai Subsistem Regional Jabodetabek

Pada tahun 1976 dikeluarkan Instruksi Presiden no. 13 tahun 1976 tentang Jabotabek (Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi) di mana wilayah Kota Bogor ditetapkan sebagai salah satu kota penyangga ibukota dan sebagai kota permukiman (dormitory town). Beberapa pokok Kebijaksanaan Pengembangan Wilayah Jabotabek adalah sebagai berikut:

1. Meringankan tekanan penduduk di wilayah DKI Jakarta, sehingga kehidupan sosial ekonomi dan budaya dapat berlangsung serasi.

2. Mengusahakan agar kegiatan industri dan perdagangan yang terdapat di wilayah DKI. Jakarta dapat lebih mendorong kegiatan-kegiatan yang berkaitan di daerah lain, terutama di daerah yang berbatasan dengan wilayah DKI Jakarta.

3. Menyerasikan perkembangan pada daerah-daerah perbatasan antara wilayah DKI. Jakarta dengan wilayah Botabek (Bogor-Tangerang-Bekasi).

4. Mengembangkan pusat-pusat permukiman di wilayah Botabek dengan bentuk-bentuk permukiman baru.

Perkembangan Pembangunan Kota Bogor Saat Ini

Bogor terletak pada kaki Gunung Salak dan Gunung Gede sehingga sangat kaya akan hujan orografi. Angin laut dari Laut Jawa yang membawa banyak uap air masuk ke pedalaman dan naik secara mendadak di wilayah Bogor sehingga uap air langsung terkondensasi dan menjadi hujan.

Hampir setiap hari turun hujan di kota ini dalam setahun (70%) sehingga dijuluki “Kota Hujan”. Keunikan iklim lokal ini dimanfaatkan oleh para perencana kolonial Belanda dengan menjadikan Bogor sebagai kota taman (garden city) sekaligus sebagai pusat penelitian botani dan pertanian hingga sekarang.

Wawancara terhadap beberapa penglaju (comuter) yang berdomisili di Bogor dan bekerja atau kuliah di Jakarta menunjukkan bahwa place attachment mereka terhadap kota Bogor cukup tinggi. Hampir seluruh responden menyukai tinggal di Bogor dan tidak mau bila rumah mereka diganti atau ditukar dengan rumah daerah lain misalnya Bekasi.

Padahal hanya setengah dari mereka yang asli orang Bogor, sisanya merupakan pendatang. Ketika ditanya kenapa mereka menyukai kota Bogor, jawaban mereka sebagian besar adalah :

  • Kondisi alam dan klimatologis (Bogor sebagai kota hujan & beriklim sejuk)
  • Pola garden city yang teduh, yang sampai saat ini masih terlihat
  • Moda transportasi (terutama KRL) dan aksesibilitas yang menunjang mobilitas penduduk
  • Lengkap dan tersebarnya sarana perkotaan
  • Keramahan dan keakraban penduduk Bogor yang didominasi oleh budaya Sunda. Ini berbeda dengan Jakarta yang multi kultur.
Kesimpulan

Secara fisik kota Bogor memang memiliki banyak peninggalan sejarah yang memberi kontribusi pada identitas kota. Walaupun demikian, karena fenomena extending metropolitan yang terjadi saat ini, karakter kota Bogor yang bersejarah tersebut sekarang mulai terdesak dampak pembangunan regional.

Bogor sekarang merupakan kota yang merepresentasikan perpaduan kultur tradisional Sunda, budaya kolonial, dan modernitas kota metropolitan. Tarik menarik antara kekuatan lokal dan regional sedang berlangsung di kota ini.

Akibatnya saat ini terdapat 3 tipe kawasan yang membentuk karakter kota Bogor yaitu kawasan historis kolonial (kekuatan lokal), kawasan pembangunan ekonomi internal (campuran kekuatan lokal & regional), dan kawasan permukiman yang terkait dengan pembangunan berpola komuter (kekuatan regional).

Sayangnya ketiga karakter pembangunan kota ini belum bisa bersinergi untuk menjadikan Bogor sebagai kota yang beridentitas kuat. Identitas perkotaan (urban identitiy) dapat diungkap melalui faktor-faktor penyebab keterikatan emosional (place attachment) penduduk kota tersebut.

Walaupun saat ini kawasan historis kolonial merupakan kawasan yang paling tidak berkembang di Bogor, kawasan dengan konsep garden city ini memiliki kontribusi yang paling kuat pada tingkat place attachment penduduk Bogor.

Dari fenomena ini dapat disimpulkan bahwa untuk mendapatkan identitas pada kota-kota berskala regional, aspek konservasi dan integrasi kawasan historis harus dipertimbangkan secara matang.

Selain itu, identitas kota tidak hanya terletak pada konfigurasi fisik tetapi merupakan integrasi antara aspek morfologi ruang dengan pola mobilitas masyarakatnya.

Daftar Pustaka

Daftar Pustaka
Altman, I. dan Low, S.M. (Eds) (1992) Place Attachment. Human Behavior and Enviromnet, Volume 12. New York: Plenum Press.

Breakwell, G. (1986). Coping with Threatened Identities, London: Methuen & Co.

Calthorpe, Peter & Fulton, William (2001).The Regional City: Planning for the End of Sprawl. Washington: Island Press.

Canter, D. (1977). The Psychology of Place. London: Architectural Press.

Carmona, Matthew, et.al. (2003). Public Places – Urban Spaces: The Dimentions of Urban Design. Burlington: Elsevier,

Casey, Edward S. (1998). The Fate of Places: A Philosophical History. California: University of California Press,

Direktorat Jendral Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum (2002). Metropolitan di Indonesia: Kenyataan dan Tantangan dalam Penataan Ruang.

Jones, Gavin W., Studying Extended Metropolitan Regions in South-East Asia, Makalah pada The XXIV General Conference of the IUSSP, Salvador Brazil, 18-24 Agustus 2001.

McGee, T.G. (1967). The Southeast Asian City, London: G. Bell and Son.

Nas, Peter J.M. (ed.) (2002). The Indonesian Town Revisited, Singapore: Institute of South Asia Studies.

Norberg-Schultz, Christian (1980). Genius Loci: Toward a Phenomenology of Architecture. New York: Rizzoli.

Rapoport, Amos (1982). Human Aspect Urban Form, New York: Van Nostrand Reinhold Company.

Relphs, E. (1976). Place and Placelessness, London: Pion Limited.

Soetomo, Sugiono (2002). Dari Urbanisasi ke Morfologi Kota. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponogoro.

Twigger-Ross, C.L. & Uzzel, D.L. (1996). Place and Identity Process, Journal of Environmental Psychology 16.

Zahnd, Markus (1999). Perancangan Kota secara Terpadu: Teori Perancangan Kota dan Penerapannya.

Yogyakarta: Penerbit Kanisius – Soegijapranata University Press,

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *