Kampus Merdeka – Mahasiswa Didorong Berpikir Merdeka Dan Berenang di Samudra

Indonesia mempunyai sumberdaya (resources) yang luar biasa dilihat dari sisi sumberdaya alam, lokasi yang strategis, dan sumberdaya manusia yang mencapai 260 juta jiwa dimana Indonesia mempunyai keunggulan dalam bonus demografi (jumlah penduduk usia 35 tahun paling banyak). Logika berpikir normal dengan semua kapabilitas diatas, maka kemakmuran, kesejahteraan penduduknya, dan kegiatan ekonomi sosial harusnya tidak terjadi masalah. Namun dalam realitas nya kondisi sebaliknya yang kita hadapi dengan banyaknya jumlah utang negara, penduduk miskin, dan pengangguran yang mencapai 6.82 Juta pada Pebruari 2019.[1]

Lulusan perguruan tinggi mengkontribusi rata 6.5% dari jumlah pengangguran mengalami kenaikan sampai dengan 25%[2], artinya tidak semua keluaran perguruan tinggi mendapatkan peluang kerja yang tersedia baik sektor formal ataupun informal. Mengacu pada kondisi diatas,  MenDikBud mendapatkan data primer dari wawancara dengan pemilik dan  pimpinan perusahaan tentang faktor apa saja yang menyebabkan banyak pengangguran para lulusan perguruan tinggi. Sikap pro-aktif, kemampuan ber-kolaborasi (teamwork), sikap kreatif, dan kurangnya rasa percaya diri merupakan beberapa penyebab lemahnya daya saing para lulusan perguruan tinggi sehingga menyebabkan terus naiknya angka pengangguran[3].

Harapan minimum dari orangtua dalam mendorong anak-anak untuk melanjutkaan pendidikan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi adalah bagaimana dapat memperbaiki tingkat sosial-ekonomi keluarga dimasa datang dengan mendapakan kerja atau penghasilan. Maka salah satu kriteria kampus dinyatakan berhasil adalah ketika mampu menghasilkan lulusan yang mempunyai dayasaing tinggi di pasar dan mendapatkan kerja formal atau wirausaha dalam jangka waktu 6 bulan sampa dengan 1 tahun.  Kondisi ini menjadi tantangan bagi Kemendikbud bagaimana perguruan tinggi mampu memberikan pendidikan dan menghasilkan lulusan seperti yang diharapkan oleh pasar.

Menteri Pendidikan dengan latar belakang pendidikan yang dimilikinya membuat terobosan dalam upaya agar lulusan perguruan tinggi dapat sebanyak mungkin terserap oleh industri dengan konsep ‘Kampus Merdeka’. Melalui program terobosan ini diharapkan perguruan tinggi memiliki kewenangan dan otonomi  dalam melakukan eksplorasi kapabilitas yang dimiliki sehingga mampu menghasilkan para lulusan yang mempunyai daya saing dalam mengarungi dunia industri 4.0.

Kampus Merdeka, diharapkan memberikan solusi bagi perguruan tinggi untuk menghadirkan lulusan dengan  dayasaing tinggi sesuai kebutuhan pasar dengan melakukan kolaborasi dengan pihak ketiga (credible industry) dalam pembentukan kurikulum pengajaran sampai pada level  pembentukan program studi baru yang sesuai dengan kebutuhan industry.  Sehingga dengan konsep kolaborasi ini diakhir proses pendidikan diharapkan terjadi ‘leapfrog’ / lompatan kedepan yang bisa langsung memotong jalur menuju kesiapan dalam menghadapi dunia kerja.

Melalui program kolaborasi ini, akan memacu mahasiswa menjadi haus akan ilmu, sehingga terjadi perubahan perubahan paradigma kebebasan dalam berpikir, berkreasi, dan bertindak karena model pembelajaran lebih diarahkan pada kegiatan learning by doing berdasarkan kebutuhan pasar. Mahasiswa harus diberikan kemampuan membentuk karakter kepribadiannya dengan berani  berenang di  Samudra menghadapi tantangan ombak yang berlalu berbeda setiap saat.

Kolaborasi akan memberikan manfaat simbiosis mutualisme, bagi perguruan tinggi akan semakin mendapatkan citra yang baik dengan lulusan yang banyak terserap, terjadi peningkatan mutu, dan mahasiswa merasa memperoleh pendidikan yang siap pakai dengan kurikulum yang selalu update. Sementara bagi Industri mendapatkan sumber tenaga kerja yang siap pakai sehingga dapat menurunkan biaya-biaya dalam proses rekruitmen, kegiatan magang industri, dan citra yang baik dimasyarakat.

Kampus merdeka  menjadi tantangan tersendiri  bagi dunia kampus karena mahasiswa diberikan kebebasan untuk mengambil 2 semester ( 40 SKS)  melakukan kuliah diluar prodi antara lain dengan melakukan program magang atau melakukan Project Independent Study, mengembangkan dan mendorong peningkatan ‘Applied research’ yang memberikan dampak dalam penyelesaian permasalahan bangsa dan negara.

Di era indutri 4.0, pergururuan tinggi ditantang untuk mengembangkan STEAM (Science-Technology-Engineering-Art- and Math) karena tantangan kedepan dibutuhkan skill dan knowledge  para lulusan perguruan tinggi  dalam menghadapi era yang berubah dengan cepat dengan cara yang terintegrasi mengidentifikasi, merumuskan dan memecahkan masalah.

 

By Sutopo, SE, MP

[1] www.money.kompas.com/2019/05/06

[2] www.katadata.co.id/infografik/2019/05/17

[3] CNN-Indonesia, Insight with desi Anwar, 17April2020, 06.30

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *