Stabil dalam Kebaikan

Stabil dalam Kebaikan – Manusia adalah mahluk yang lemah meski beragam keistimewaan melekat pada dirinya. Salah satu bentuk kelemahan itu adalah sulitnya mengendalikan hati.

Setiap orang merasakan, hati mudah berubah dan berbolak balik. Futur adalah bagian dari perubahan itu. Dr. Nashir al-Umar menjelaskan “futur adalah rasa malas, menunda, lambat setelah bersemangat, tidak bergairah dalam kebaikan” [Al futur, maddzohir asbab ilaj, Hal. 22].

Saat futur mendera semangat berbuat kebaikan melemah bahkan anjlok. Kondisi seperti ini tidak terletakkan. Nabi telah menyebutkan dalam hadis yang artinya. “setiap amalan ada masa bersemangat dalam melakukannya dan setiap masa bersemangat ada waktunya melemah”. [Riwayat Ahmad disahihkan Albani].

Alhasil, seorang yang sedang futur mudah takluk oleh godaan dan rayuan. Tak mengherankan jika terkadang kita menjumpai orang yang sudah bertobat, bahkan begitu gigih dalam kebaikan, tetapi beberapa waktu kemudian terperosok kembali dalam keburukan.

Dalam sejarah Rasulullah, bahaya futur itu telah Allah perlihatkan. Tatkala kaum Muslimin hijrah ke Habasyah, ada di antara peserta hijrah yang futur hingga akhirnya murtad dari Islam.

Dalam salah satu perang juga terdapat seseorang yang begitu gigih dan penuh semangat. Namun, nabi menghukuminya sebagai penghuni neraga. Ternyata orang tersebut bunuh diri.

Saat terluka parah, semangatnya melemah sehingga godaan setan menggiringnya untuk menusukkan tombak ke perutnya.

Secara konkret Umar berpesan tentang taktik meraih kestabilan dalam kebaikan. Ia berkata “sesungguhnya hati itu memiliki rasa bersemangat kepada kebaikan dan masa membelakangi kebaikan itu. Jika ia bersemangat, maksimalkan dalam amalan-amalan sunah, dan jika sedang membelakangi maka tetapkan dia untuk tidak meninggalkan yang wajib.” [Robiul Abrar, Hal. 158].

Singkatnya, dalam setiap keadaan selalu berusaha dalam koridor sunah meski terkadang ada perubahan intensitas dalam kebaikan. Nabi bersabda yang artinya “siapa yang semangatnya dalam koridor sunahku, ia sungguh beruntung. Namun, siapa yang sampai futur hingga keluar dari sunahku, dialah yang binasa” [Riwayat Ahmad dishohihkan Albani].

Allah menilai amalan kita bukan pada kuantitasnya, tapi pada kesesuaiannya dengan tuntunan Rasulullah. Semangat beramal harus dikendalikan jika menggiring kita keluar dari sunah nabi.

Yang sedikit, tapi kontinu dan sesuai sunah lebih dicintai dan lebih membantu dalam meraih keistiqamahan dalam segala situasi.

Nabi bersabda yang artinya, “wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian, karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Ketahuilah bahwa amalan yang dicintai oleh Allah adalah amalan dalam koridor sunah yaitu yang kontinu walaupun sedikit” [HR Muslim].

Sumber: Koran REPUBLIKA, Khazanah Jum’at 20 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *