Acacia mangium Willd, Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas Bab 3 – 4

Bab 1 – 2

3. Produksi Benih
3.1 Pengumpulan Benih

Acacia mangium Willd – Jenis mangium mulai berbunga dan menghasilkan biji sekitar 18–20 bulan setelah tanam (National Research Council 1983). Musim berbunga dan berbuah bervariasi tergantung lokasi geografis. Sebagai contoh, di Australia puncak musim bunga terjadi pada bulan Maret dan Mei dengan musim buah jatuh pada akhir September–Desember (Sedgley dkk. 1992). Di Indonesia, buah masak terjadi lebih awal yaitu sekitar bulan Juli, dan di Papua Nugini buah masak terjadi pada bulan September (Turnbull 1986). Secara umum, buah akan masak 5–7 bulan setelah periode pembungaan .

Buah dapat dipanen pada saat terjadi perubahan warna menjadi coklat tua dan biji mulai terbuka. Pemanenan dilakukan dengan cara memangkas buah dari pohon dengan menggunakan galah pangkas. Idealnya, buah dipanen sebelum polong terbuka secara penuh (Bowen dan Eusebio 1981 dalam Adjers dan Srivastava 1993); polong dengan biji-biji menggantung biasanya tetap melekat di pohon selama beberapa minggu.

3.2 Persiapan Benih

Buah polong mangium harus diproses secepat mungkin setelah pengumpulan. Berbagai teknik dapat digunakan untuk memisahkan benih dari polongnya. Benih dapat diekstraksi secara manual setelah dikeringkan di tempat terbuka selama beberapa hari (24–48 jam) sampai warna polong berubah menjadi coklat/hitam dan terpisah. Suhu pengeringan harus tetap di bawah 43 oC untuk menghindari hilangnya viabilitas benih (FAO 1987). Biji juga dapat dipisahkan dari polongnya setelah pengeringan dengan cara diputar selama 10–15 menit dalam pengaduk semen dengan balok kayu yang berat. Metode lain adalah dengan meletakkan polong kering ke dalam karung dan kemudian memukulnya dengan mesin perontok.

Biji kemudian diayak dan ditampi secara manual atau dengan mesin untuk mengeluarkan kotoran. Satu kilogram biji yang sudah bersih rata-rata mengandung 80.000–110.000 butir (National Research Council 1983).

3.3 Penyimpanan dan Viabilitas Benih

Penyimpanan benih mangium relatif mudah. Setelah benih dikeringkan hingga kadar air 6–8% dan disimpan dalam wadah yang kedap udara, benih akan tetap berkecambah hingga 75–80% selama beberapa hari (National Research Council 1983). Penyimpanan harus dilakukan dengan tepat untuk melindungi benih dari suhu tinggi, cahaya, dan oksigen yang berlebihan. FAO (1987) menganjurkan penyimpanan benih mangium dalam wadah tertutup yang kedap udara dan disimpan dalam lemari es dengan suhu 0–5 oC. Supriadi dan Valli (1988) menyarankan untuk menggunakan jeriken bersih atau botol-botol kecil yang dapat ditutup dengan rapat. Menurut Evans (1982), benih mangium memiliki ketahanan yang lama apabila tetap disimpan pada kondisi kering dan bebas dari serangga dan binatang pengerat yang merusak.

Sebelum penaburan, benih harus dimasukkan dalam air mendidih selama 30 detik, dan kemudian didinginkan dengan cara direndam dalam air dingin selama 2 jam. Perkecambahan mungkin terjadi setelah 1 hari dan terus berlangsung sampai 10–15 hari (Adjers dan Srivastava 1993).

4. Propagasi dan Penanaman
4.1 Penaburan

Benih dapat ditabur pada bedeng tabur dan ditransplantasikan setelah 6–10 hari. Meskipun demikian, daya perkecambahan dengan menggunakan metode ini hanya sekitar 37%. Penaburan pada bak kecambah dan mentransplantasikannya setelah 6–10 hari ketika radicle (embrio) keluar bisa menghasilkan daya perkecambahan lebih dari 85% (Adjers dan Srivastava 1993). Cara lain adalah dengan penaburan secara langsung dalam kontainer dan diikuti dengan transplantasi untuk mempertahankan satu bibit per kontainer. Penaburan secara langsung umumnya lebih disukai oleh banyak petani pohon karena  mengurangi biaya produksi bibit dan risiko deformasi akar (Adjers dan Srivastava 1993). Metode ini memerlukan benih yang berkualitas baik dengan persentase perkecambahan yang tinggi. FAO (1987) merekomendasikan beberapa benih pada setiap kontainer: 3 biji per kontainer (daya perkecambahan 30–50%), 2 biji per kontainer (daya perkecambahan 51–80%), dan 1 biji per kontainer (daya perkecambahan lebih dari 81%). Penaburan secara langsung harus dilakukan di bawah jaring naungan karena mangium tidak memerlukan banyak cahaya.

Di Indonesia, jaring dengan transmisi cahaya 50% telah digunakan secara ekstensif (Supriadi dan Valli 1988). Setelah ditabur benih harus ditutup. Bahan penutup seperti pasir kasar yang sudah dicuci, batu atau kerikil yang sudah dihancurkan biasanya digunakan untuk mencegah munculnya penyakit lodoh (rebah semai), mempercepat munculnya kotiledon dan memberi ruang yang cukup untuk pertukaran udara dan drainase air (FAO 1987).

4.2 Persiapan Sebelum Penanaman

Kelembaban yang cukup dan sumber pupuk yang sesuai sangat penting bagi pertumbuhan bibit di persemaian. Penyiraman yang berlebihan dapat menyebabkan bibit berair, sedangkan penyiraman yang kurang dapat menyebabkan bibit kerdil (FAO 1987). Waktu penyiraman tergantung pada suhu, curah hujan, kelembaban udara, evapotranspirasi, kecepatan angin, ukuran pohon dan substrat. Pupuk NPK umumnya diberikan pada umur 10 hari setelah tanam dan diberikan dua kali seminggu di persemaian (Adjers dan Srivastava 1993). Setelah pemberian pupuk, sedikit penyiraman diperlukan untuk mencuci daun dari residu pupuk.

Bibit biasanya dipelihara di persemaian selama 12 minggu atau sampai mencapai ukuran tinggi 25–40 cm. Srivastava (1993) merekomendasikan dua pemangkasan akar dan pengerasan bibit (adaptasi bibit dengan sinar matahari penuh) sebelum dilakukan penanaman di lapangan. Pada tanah dengan kandungan fosfor rendah, bibit mangium yang diberi pupuk fosfor sebesar 30 g per pohon menunjukkan peningkatan pertumbuhan yang signifikan dibandingkan dengan pertumbuhan bibit yang tanpa pupuk (Lemmens dkk. 1995).

4.3 Penanaman

Bibit ditanam secara manual pada waktu musim hujan di lokasi penanaman yang sudah disiapkan dan telah diberi tanda pada jarak tanam yang direkomendasikan. Pada areal yang miring, bibit ditanam sesuai dengan garis kontur, dan di areal yang datar bibit ditanam sesuai dengan garis lurus. Setelah kontainer dilepas, setiap bibit ditempatkan secara hati-hati pada lubang tanam berukuran diameter 13 cm dan kedalaman 20 cm (Srivastava 1993). Lihat seksi 5.2 untuk pupuk yang digunakan pada saat penanaman.
Jarak tanam tergantung pada tujuan penanaman dan tingkat kesuburan tanah.

Jarak tanam awal  dapat bervariasi dari 2 × 2 m sampai dengan 4 × 4 m. Untuk produksi kayu bakar dan kayu serpih di mana bentuk batang tidak dipertimbangkan, bibit harus ditanam dengan jarak yang lebih lebar untuk menghasilkan batang dan percabangan yang lebih banyak sehingga menghasilkan volume pohon total yang lebih besar (Srivastava 1993), meskipun biaya panen akan meningkat. Penanaman dengan jarak tanam yang lebih rapat untuk produksi kayu gergajian dapat mengurangi terbentuknya cabang-cabang besar dan risiko infeksi jamur (Weinland dan Zuhaidi 1991 dalam Srivastava 1993). Di Indonesia, jarak tanam 3 × 3 m pada umumnya digunakan di hutan tanaman A. mangium baik yang berskala besar maupun berskala kecil.

Sumber:

Judul:

Acacia mangium Willd. Ekologi, Silvikultur dan Produktivitas

Penulis:

  • Haruni Krisnawati
  • Maarit Kallio
  • Markku Kanninen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *