Budidaya Sengon Unggul untuk Pengembangan Rakyat (Part 2)

Part 1

Teknik Penanaman
Pembersihan Lahan dan Pengolahan Tanah

Pembersihan lahan dilakukan secara total, menggunakan sistem mekanik (pembabadan) dan kima. Kegiatan awal dilakukan dengan membersihkan tanaman dan semak yang berukuran besar yang dianggap akan mengganggu tanaman pokok. Setelah itu dilakukan pembabadan rumput/gulma pada seluruh lokasi.

Tanaman sisa pembersihan kemudian dikumpulkan dan dibakar. Tahapan selanjutnya adalah penyemprotan menggunakan herbisida.

Pemasangan Ajir dan Pembuatan Lobang Tanaman

Ajir digunakan sebagai penanda dimana tanaman akan ditanam, ajir umumnya dibuat dari bambu dengan ketinggian 50 – 75 cm. Pemasangan ajir dilakukan dengan seksama pada setiap plot (Gambar 12a).

Ajir harus ditancapkan selurus mungkin karena posisi ajir akan sangat menentukan posisi lubang tanam dan posisi tanaman. Penancapan ajir harus diselesaikan per plot. Penancapan ajir dapat pindah ke plot lainnya apabila satu plot selesai dikerjakan.

Cara pemasangan ajir adalah sebagai berikut:

  1. Rentangkan tali pada dua sisi panjang dan satu sisi lebar sebuah plot
  2. Ukur sisi sehingga sesuai dengan panjang dan lebar plot di peta
  3. Tancap ajir pada sisi-sisi tersebut
  4. Tancap ajir seluruh plot, dimulai sebaris sisi lebar tersebut bergerak menuju sisi lebar lainnya.

Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan lubang tanam adalah sebagai berikut

  1. Pembuatan lubang tanam dilakukan setelah penancapan ajir selesai dikerjakan
  2. Lubang tanam dibuat pada ajir dengan terlebih dahulu mencabut ajir
  3. Lubang tanaman dibaut dengan ukuran 30 x 30 cm dengan kedalaman 30 cm
  4. Ajir ditancapkan kembali setelah lubang tanam selesai dibuat.

Pada kegiatan pemupukan sebelum penanaman, beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut

  1. Pupuk kandang diberikan pada lubang tanam yang telah dibuat
  2. Pupuk yang digunakan antara lain pupuk kandang (kotoran kambing) dengan dosis 1 kg/pohon, Furadan 100 gram/pohon dan NPK 100 gram/pohon
  3. Pupuk kandang diberikan minimal seminggu sebelum penanaman, sedangkan Furadan dan NPK diberikan sehari sebelum penanaman
  4. Pupuk kandang diusahakan diaduk dengan tanah sebelum kegiatan penanaman dilakukan

Pengangkutan Bibit dan Penanaman

Kegiatan pengangkutan bibit perlu dilakukan jika letak persemaian dengan lokasi penanaman jauh. Untuk memudahkan pengankutan dan menjaga agar bibit tidak rusak, pengepakan bibit ke dalam bak-bak atau dalam plastic perlu dilakukan.

Hal ini juga untuk memudahkan kegiatan menaikkan atau menurunkan bibit dari kendaraan, serta pengankutan ke lapangan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kegiatan menanam adalah sebagai berikut:

  1. Kantong plastik sedikit diremas agar media menjadi padat, dan polybag menjadi longar
  2. Bibit kemudian ditarik dari kantong dan apabila ternyata masih sulit, maka kantong plastik harus dirobek dan diusahakan agar media tetap kompak
  3. Setelah bibit diletakkan, lubang ini ditutup kemudian dipadatkan dengan tangan
  4. Kantong plastik kemudian diikatkan di ujung ajir sebagai tanda bahwa kantong telah dilepas dan bibit telah ditanam
  5. Penanaman harus memeperhatikan kondisi cuaca. Penanaman dilakukan pada pagi hari dan dilanjutkan pada sore hari
  6. Apabila tidak turun hujan beberapa hari dan tanah terlihat kering maka penanaman harus ditunda.
Pemeliharaan

Kegiatan pemeliharaan yang dilakukan pada pertanaman sengon berupa:

1. Pemupukkan
  1. Pemupukan harus dilakukan para areal pertanaman yang kurang unsur hara, dan untuk menentukan jenis pemupukan yang tepat sebaiknya dilakukan analisis tanah
  2. Tanaman sengon umur 4 bulan perlu diberi pupuk urea, ZA, TSP dan KCL berturut-turut sebanyak 40, 80, 120, 160 kg/ha. Pemberian pupuk tersebut akan meningkatkan kualitas dan kuantitas akar sengon dimana akan meningkatkan pula jumlah bintil akar sengon yang berfungsi untuk mengambil unsur nitrogen dari udara
  3. Pemupukan dilakukan di sekeliling tanaman dengan radius 15 cm, dibuat cekungan untuk tempat pupuk kemudian ditutup kembali
  4. Pemupukan diulang lagi pada awal tahun kedua dengan menggunakan takaran yang sama
  5. Selain pupuk kimia tersebut diatas, pemberian pupuk organic (kompos) yang sudah terdekomposisi sangat dianjurkan, terutama untuk memperkokoh tumbuhan.
2. Penyulaman
  1. Penyulaman dilakukan untuk mengganti tanaman yang mati atau tidak tumbuh normal setelah ditanam dengan tanaman yang baru
  2. Penyulaman dilakukan pada saat tanaman sudah berumur satu sampai dua bulan setelah ditanam, hal ini dimaksudkan agar tanaman pengganti tidak begitu ketinggalan dengan tanaman yang lain
  3. Pada tahun kedua, apabila persen hidup kurang dari 80% maka dilakukan penyulaman kembali
  4. Penyulaman sebaiknya dilakukan pada saat pagi hari atau menjelang hujan.
3. Penyiangan
  1. Penyiangan atau pendangiran menyeluruh dilakukan setiap 3 bulan sekali pada tahun pertama dan kedua.
  2. Pada tahun ketiga dilakukan penyiangan jalur, pembebasan dan pendangiran di sekitar tanaman pokok dengan jari-jari 0,5 m.
  3. Pada tahun keempat dilakukan penyiangan jalur, pembebasan dan pemangkasan (low pruninning).
  4. Pengendalian gulma dapat dikendalikan secara manual selebar 1 m disekeliling tanaman atau menggunakan herbisida seperti Garlon 480 EC, Tordon 101< Indamin 720 HC dan Stratone 200 EC.
4. Penjarangan
  1. Penjarangan dilakukan untuk memberikan ruang tumbuh bagi tegakan
  2. Pada umumnya penjarangan dilakukan setelah tanaman berumur 3 tahun dan 5 tahun
  3. Penjarangan dilakukan pada pohon-pohon yang pertumbuhannya jelek, terserang hama penyakit, bentuk batangnya bengkok maupun yang menggarpu
  4. Penjarangan juga dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan diameter batang dengan menggurangi kompetisi antar tanaman dalam mendapatkan sinar matahari maupun nutrisi dalam tanah.
Hama Penyakit pada Sengon

Selain tindakan pemeliharaan seperti yang diuraikan diatas, tindakan pengendalian terhadap hama dan penyakit menjadi hal yang sangat penting untuk dilakukan. Untuk mencegah agar tanaman bebas dari serangan hama dan penyakit maka perlu diketahui jenis hama dan penyakit yang sering ditemukan menyerang tanaman.

Dengan mengetahuinya, petani akan mudah untuk melakukan pengendalian termasuk pencegahannya.

Hama pada Sengon
1. Boktor (Xystrocera festiva)

Boktor (Xystrocera festiva) atau disebut juga kumbang menjangan merupakan hama utama yang menyerang sengon. Merupakan hama penggerek yang menyerang tanaman umur 3 tahun. dengan menyerang bagian batang tanaman hingga menjadi rapuh.

Pengendalian hama boktor ini dapat dilakukan secara fsik, silvikultur, hayati, kimiawi, dan pengendalian terpadu.

Pengendalian secara fsik dapat dilakukan dengan cara:

  1. Penangkapan dengan lampu neon
  2. Penyesetan kulit batang sengon yang terserang
  3. Pemusnahan kelompok telur X. festiva.

Pengendalian dengan cara silvikultur dapat dilakukan dengan cara:

  1. Evaluasi kesesuaian lahan
  2. Penanaman pohon resisten
  3. Pengaturan jarak tanaman awal
  4. Pembuatan tegakan campuran, dan
  5. Penjarangan.

Pengendalian hama secara hayati dilakukan dengan memanfaatkan musuh-musuh alami dari hama tersebut yang berupa parasitoid, predator dan jamur pathogen. Parasitoid yang ditemukan adalah parasitoid telur dari famili Encyrtidae dan parasitoid larva dari famili Braconidae, keduanya tergolong bangsa lebah.

Predator yang memangsa larva X. festiva adalah semut merah dan burung pemakan serangga. Jamur pathogen yang menginfeksi larva dan pupa boktor ditemukan pada musim hujan.

Pengendalian boktor secara kimiawi dilakukan dengan menggunakan insektisida berupa serbuk paradiklor bensol yang diencerkan dengan minyak tanah dengan perbandingan 1 : 10.

Kupu-kupu kuning (Eurema sp) dan Kumbang (Xylosandrus moriques), yang menyerang sengon saat bibit maupun tanaman dewasa. Kupu-kupu umumnya memakan daun bibit sampai daun habis, sedangkan kumbang tidak hanya memakan daunnya bahkan sampai rantingnya. Hama ini dapat diberantas dengan pestisida.

Ulat Kantong (Pteroma plagiophles) merupakan ordo Lepidoptera dimana morfologi tubuh ditutupi oleh daun-daun kering. Larva tinggal di dalam kantong sampai dewasa. Bergerak dan makan dengan mengeluarkan kepala dan sebagian toraksnya.

Tanaman sengon yang terkena akan menyebabkan daun berlubang dan berwarna coklat, jika sudah terkena serangan parah maka daun akan rontok, tajuk menjadi gundul dan mematikan tanaman.

Pengendalian hama ulat kantong dapat dilakukan dengan menggunakan insektisida alami. Berupa campuran 1 kg daun dan batang tembakau yang dihancurkan, ditambah 1 sendok teh sabun colek dan 15 liter air. Campuran tersebut direndam selama 24 jam. Setelah itu campuran disaring dan siap untuk disemprotkan.

Penyakit pada Sengon
1. Karat Tumor

Penyakit ini disebabkan oleh jamur Uromycladium tepperianum, yang menyerang bibit di persemaian sampai tanaman dewasa pada bagian daun, dahan maupun batang tanaman.

Penyebaran penyakit ini akan lebih cepat pada daerah yang berkabut, daerah yang tinggi maupun tegakan yang kurang mendapatkan cahaya matahari. Penyakit ini menyebabkan penurunan produktivitas karena akan menyebabkan kematian pada pohon-pohon yang masih muda, sedangkan pada pohon yang dewasa jika karat tumor menyerang batang maka akan memudahkan tanaman patah jika kena angin maupun menyebabkan kayu yang cacat, sehingga menurunkan harga ketika di jual.

Pengendalian penyakit ini yang paling efektif adalah dengan cara mekanik yaitu dengan memotong bagian tanaman yang terserang karat tumor, kemudian menimbun karat tumor tersebut di dalam tanah.

2. Jamur Upas

Jamur ini menyerang bagian atas tanaman dari berbagai umur melalui luka pada kulit atau kulit kayu yang tipis. Gejala serangan yang ada adalah terjadinya perubahan warna pada batang kayu sengon, yang akhirnya menyebabkan kayu menjadi pecah-pecah dan terkelupas.

Jamur ini lebih dominan menyerang kayu teras dibandingkan kayu gubal. Pengendalian jamur upas tersebut adalah dengan melakukan pemangkasan bagian
tanaman yang diserang atau dengan pembakaran tanaman yang diserang.

3. Penyakit Merah

Penyebab penyakit ini adalah jamur Ganoderma sp, yang umumnya menyerang akar sengon dan menyebabkan daun layu dan rontok. Jika kulit akar dikelupas, akan Nampak benang merah menempel pada kayu akar.

Umumnya jamur ini berkembang pada tanah basah dan berat pH 6,0 – 7,0. Adapun pengendaliannya dilakukan dengan fungisida Ganocide atau Calixin CP, atau dengan membakar tanaman yang sakit sampai ke akarnya.

Daftar Pustaka

Achmad, B., S. Mulyana dan A. Badrunasar. 2004. Pemeliharaan Hutan Rakyat Jenis Sengon. Al. Basia Vol.1 No.2 Maret 2004. Loka Penelitian dan Pengembangan Hutan Monsoon, Ciamis

Alrasyid, H. 1973. Beberapa Keterangan Tentang Albizia Falcataria (L). Fosberg. Lembaga Penelitian Hutan : Bogor.

Anggraeni, 2008. Pengendalian Penyakit Karat Tumor (Gall Rust) pada Sengon (Paraserianthes falcataria) di RPH Pandantoyo, BKPH Pare, KPH Kediri. Makalah Workshop Penanggulangan Serangan Karat Puru pada Tanaman Sengon. Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan.

Charomaini, M. dan H. Suhendi., 1994. Genetic variation pf Paraseranthes falcataria seed sources in Indonesia and its potential in tree breeding programs. In: Q. Z. Nrptale (Ed), Forest, Farm, and Community Tree Research Reports, Proceding of International workshop on albiza and paraserianthes species November 13 – 19, 1994, A publication of Winrock International.

Heyne, K. 1987. Tumbuhan Berguna III. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan Penerbit Yayasan Sarana Wana Jaya : Jakarta.

Hidayat, J., 2002. Informasi Singkat Benih Paraserianthes Falcataria (L) Nielsen. No 23, Juni 2002. Direktorat Perbenihan Tanaman Hutan : Jakarta.

Martawijaya, A. Kartasujana, I., Mandang, Y.I., Prawira, S.A. dan Kadir, K. 1989. Atlas Kayu Indonesia Jilid II. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Bogor, Indonesia.

NAS (National Academy of Science)., 1983. Fuel wood crops. Schrub and tree species for energy production, Vol 2. National Academy Press. Washington DC.

Pramono, A.A., Fauzi, M.A., Widyani, N., Heriansyah, I. dan Roshetko, J.M. 2010. Pengelolaan hutan jati rakyat: panduan lapangan untuk petani. CIFOR, Bogor, Indonesia.

PROSEA (Plant Resourches of South-East Asia) 5. 1994. Paraserianthes Nielsen. In : Soerianegara, I and Lemmens, R.H.M.J. (eds.).(1) Timber trees: Major commercial timbers. Bogor. Indonesia.

Richter, H. G. dan M. J. Dallwitz., 2000. Commercial timbers: descriptions, llustrations, identifcation, and information retrieval. In English, French, German, and Spanish. Diakses dari http://biodiversity. uno.edu/delta/, tanggal 20 November 2009.

Rudjiman. 1994. Dendrologi. Yayasan Pembina Fakultas Kehutanan UGM : Yogyakarta.

Seido, K. dan Widyatmoko, A. Y. B. C., 1993. Genetic Variation at Four Alloenzyme Loci in Paraceriantes Falcataria at Wamena Irian Jaya. Laporan Proyek Pengembangan Pohon Hutan : Yogyakarta.

Seido, K., A. Y. B. C. Widyatmoko. dan G. Nursinggih., 1993. Preliminary analysis of isozyme variation of Paraserianthes falcataria in Indonesia. Proceeding BIO-REFOR, Yogyakarta, Indonesia.

Siregar Iskandar Z, Tedi Yunanto dan Juwita Ratnasari. 2010. Kayu Sengon. Jakarta : Penabar Swadya.

Sumber:

Judul:

Budidaya Sengon Unggul (Falcataria moluccana) untuk Pengembangan Hutan Rakyat

Pengarah:

  • Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan
  • Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Peningkatan Produktivitas
    Hutan

Penanggung Jawab:

Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan

Penerbit:

Kampus IPB Taman Kencana Jl. Taman Kencana No. 3, Bogor 16128

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *