Kayu Lapis (Plywood)

Kayu Lapis (Plywood) – Kayu lapis adalah suatu produk yang diperoleh dengan cara menyusun bersilangan tegak lurus bersilangan lembaran vinir yang diikat dengan perekat, minimal 3 lapis (SNI, 1992).

Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa, kayu lapis adalah produk panel yang terbuat dengan merekatkan sejumlah lembaran vinir atau merekatkan lembaran vinir pada kayu gergajian, dimana kayu gergajuan sebagau intinya.

Arah serat pada lembaran vinir untuk face dan core adalah saling tegak lurus, sedangkan antar lembaran vinir untuk face saling sejajar.

Youngsquis (1999) mengemukakan bahwa kayu lapis merupakan panel datar yang tersusun atas lembaran-lembaran vinir yang disatukan oleh bahan pengikat (perekat) dibawah kondisi pengempaan.

Penggolongan Kayu Lapis

Berdasarkan penggunaannya, kayu lapis dikelompokkan menjadi dua yaitu interior dan eksterior plywood. Youngquis (1999) mengelompokkan kayu lapis menjadi dua bagian yaitu:

  1. Kayu lapis konstruksi dan industrial
  2. Kayu lapis hardwood dan dekoratif

Berdasarkan jenis perekat yang dipergunakan, pengelompokkan kayu lapis dibedakan menjadi dua:

  1. Kayu lapis Interior yaitu kayu lapis yang penggunaannya didalam ruangan atau dengan kata lain tidak langsung terekspos oleh kondisi lingkungan luar ruangan, perekat yang dipergunakan adalah perekat interior seperti UF, MF dan MUF.
  2. Kayu lapis Eksterior yaitu kayu lapus yang penggunaannya diluar ruangan yang terekspos langsung dengan kondisi luar ruangan, perekat yang dipergunakan adalah perekat eksterior seperti PF.

Berdasarkan Vinir mukanya, kayu lapis dikelompokkan menjadi:

  1. Ordinary Plywood, yaitu kayu dimana vinir mukanya dihasilkan dari proses rotary cutting
  2. Fancy Plywood, yaitu kayu lapis dimana vinir mukanya terbuat dari kayu-kayu indah dan dihasilkan dari proses slice cutting atau half rotary cutting
Manfaat/Kegunaan Kayu Lapis

Menurut Massijaya (2006), penggunaan kayu lapis dikelompokkan menjadi:

  1. Konstruksi bangunan- Paneling: penyekat ruang, pintu, jendela
    – Bahan pelapis
    – Lantai
    – Sidding: dinding
    – Plyform
  2. Konstruksi alat-alat transportasi- Pesawat terbang: pelapis dinding bagian dalam
    – Kereta api: atap, lantai, dinding
    – Truk dan trailer: body
Perekat Urea Formaldehyde (UF)

Pizzi (1994) mengemukakan bahwa perekat UF merupakan hasil reaksi polimer kondensasi dari formaldehid dengan urea.

Keuntungan dari perekat UF antara lain larut air, keras, tidak mudah terbakar, sifat panasnya baik tidak berwarna ketika mengeras serta harganya murah.

Hiziroghu (2007) mengemukakan beberapa karakteristik dari perekat Urea Formaldehyde (CH4, N20, CH2, O) antara lain:

  1. pH: 7.98
  2. Titik didih: 100 C
  3. Berat jenis: 1.27
  4. Solid Content: 64%
  5. Viskositas: 292 cps

Vick (1999) mengemukakan bahwa perekat UF ada yang berbentuk serbuk atau cair, berwarna putih, garis rekatnya tidak berwarna dan lebih durable apabila dikombinasikan dengan melamin.

Penggunaan perekat ini adalah untuk kayu lapis meubel, papan serat dan papan partikel.

Perekat UF termasuk dalam kelompok perekat termoseting. Dalam pemakaiannya sering ditambahkan hardener, filler, extender dan air.

Menurut Rayner (1967) dalam Joyoadikusumo (1984) perekat UF memilki ketahanan yang sangat baik terhadap air dingin, agak tahan terhadap air panas, tetapi tidak tahan terhadap perebusan.

Proses Pembuatan Kayu Lapis

Massijaya (2006) mengemukakan bahwa urutan untuk proses dalam pembuatan kayu lapis adalah sebagai berikut:

  • Seleksi LogLog yang akan dipergunakan sebagai kayu lapis diseleksi mulai dari ukuran, bentuk dan kondisinya terhadap cacat-cacat yang masih diperbolehkan
  • Perlakuan awal pada logPerlakuan awal ini ditujukan untuk memudahkan dalam proses pengupasan log
  • PengupasanTsoumis (1991) mengemukakan bahwa ada tiga metode pengupasan vinir yaitu: (1) Rotary cutting/pelling, (2) Slicing/sayat, (3) Serving. Memproduksi lembaran vinir yang kontinyu, sedangkan slicing memproduksi lembaran vinir yang terputus.
  • Penyortiran vinirKegiatan ini dilakukan untuk menseleksi vinir setelah proses penguapan, vinir dipisahkan antara yang rusak dengan yang tidak serta vinir untuk bagian face dan core
  • Pnegeringan vinirKegiatan ini dilakukan dengan tujuan untuk mengurangi kadar air vinir sehingga dapat menghindarkan terjadinya blister pada kayu lapis setelah dilakukan pengempaan panas.
  • PerekatanAplikasi pelaburan perekat pada kayu lapis dapat dilakukan dengan cara roller coater, curtain coater, spry coater dan foam extruder (Youngquist, 1999).
  • PengempaanMenurut Tsoumis (1991) pengempaan dikelompokkan menjadi 2 yaitu hot press (kempa panas) dan cold press (hempa dingin). Sebagian besar kayu lapis diproduksi dengan kempa panas.

    Besarnya tekanan berkisar 100-250 psi tergantung pada kerapatan kayunya.

  • PengkondisianPengkondisian dilakukan bertujuan untuk mengurangi sisa tegangan akibat proses pengempaan serta menyesuaikan dengan kondisi lingkungan. Biasanya dilakukan selama 1-2 minggu.
Hasil dan Pembahasan
Leathe Check pada Vinir

Pengukuran leathe check dilakukan pada vinir yang dipergunakan sebagai core. Pengukuran hanya diwakili pada core vinir 4, 6  dan 8. Berdasarkan hasil pengukuran leathe check diperoleh data sebagai berikut:

Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, nilai rata-rata panjang leathe check 2.1365 mm, kedalaman leathe check 1.11451 mm serta rasio kedalam leathe check terhadap tebal vinir sebesar 50%.

Terjadinya leathe check ini disebabkan karena ketidaksesuaian posisi bar penekan dengan kayu. Kemungkinan berikutnya disebabkan karena ketajaman mata pisau yang telah berkurang.

Berikut ini disajikan gambar hasil pengamatan leathe check pada perbesaran objek 10x dan 30x

Tsoumis (1991) mengemukakan bahwa leathe check terjadi pada vinir yang diproduksi dengan metode rotary cutting/pelling, dimana pada metode ini ada dua bagian penting.

Pertama bagian permukaan vinir yang terkena bar dikenal dengan sebutan right side dan yang kedua yaitu bagian permukaan vinir yang terkena ujung mata pisau dikenal dengan sebuatan loose side.

Kadar Air Kayu Lapis

Berdasarkan gambar diatas, nilai kadar air rata-rata pada kayu lapis hasil praktikum berkisar antara 10.72 – 18.28% (14.5%) pada double spread (DS) dan 8.65 – 16.26% (12.46%) pada single spread (SS).

Keteguhan Rekat kayu Lapis

Nilai keteguhan rekat rata-rata kayu lapis tipe Interior I disajikan pada gambar berikut:

Berdasarkan gambar, nilai keteguhan rekat tipe interior I rata-rata pada kayu lapis hasil praktikum berkisar antara 5.85 – 10.76 kg/cm2 untuk keteguhan rekat terbuka dengan teknik peleburan SS, 5.61 – 12.76 kg/cm2

untuk keteguhan rekat terbuka dengan teknik peleburan DS, 5.71 –  13.75 kg/cm2 untuk keteguhan rekat tertutup dengan teknik peleburan SS serta 3.06 – 10.75 kg/cm2 untuk keteguhan rekat tertutup dengan teknik pelaburan DS.

Nilai keteguhan rekat rata-rata kayu lapis tipe Interior II disajikan pada gambar berikut:

Berdasarkan gambar, nilai keteguhan rekat tipe interior II rata-rata pada kayu lapis hasil praktikum berkisar antara 4.36 – 13.17 kg/cm2 untuk keteguhan rekat terbuka dengan teknik peleburan SS, 3.32 – 12.14 kg/cm2

Untuk keteguhan rekat terbuka dengan teknik pelaburan DS, 5.85 – 15.37 kg/cm2 untuk keteguhan rekat tertutup dengan teknik pelaburan SS serta 7.22 – 12.53 kg/cm2 untuk keteguhan rekat tertutup dengan teknik pelaburan DS

Penutup
  • Nilai rata-rata panjang leathe check 2.1365 mm, kedalaman leathe check 1.1451 mm serta rasio kedalaman leathe check terhadap tebal vinir sebesar 50%.
  • Nilai kadar air rata-rata tertinggi terdapat pada kayu lapis dengan kode PI (tanpa ekstensi dan berat labur 110 g/cm2) dengan teknik pelaburan double spread/DS.Sedangkan nilai kadar air rata-rata terendah terdapat pada kayu lapis dengan kode P7 dengan teknik pelaburan double spread/DS.
  • Nilai keteguhan rekat tipe Interior I rata-rata tertinggi terdapat pada kayu lapis dengan kode P7 dengan teknk peleburan single spread/SS.Sedangkan terendah pada kayu lapis dengan kode P5 dengan teknik pelaburan double spread/DS.
  • Nilai keteguhan rekat tipe Interior II rata-rata tertinggi terdapat pada kayu lapis dengan kode P5 dengan teknik pelaburan single spread, sedangkan terendah pada kayu lapis dengan kode P10 dengan teknik pelaburan double spread/DS.
  • Teknik pelaburan dengan SS memiliki nilai kadar air dan keteguhan rekat yang lebih baik dibandingkan dengan DS
Referensi
  • Haygreen and Bowyer. 1993. Hasil Hutan dan Ilmu Kayu (Suatu Pengantar). Diterjemahkan oleh Sutjipto A. Hadikusumo. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
  • Hiziroglu, Salim. 2007. Composite Panel Manufacture From Bamboo-Rice Straw-Eucalyptus ini Thailand. Paper disampaikan pada Studium General Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Tanggal 17 Januari 2007. Bogor
  • Joyoadikusumo, S. 1984. Pengaruh Kadar Ekstender dan Kadar Bahan Pengawet Dalam Perekat Urea Formaldhyde Terhadap Keteguhan Rekat Kayu Lapis dari Kayu Tusam (Pinus merkusii Jungh et de Vriese) dan Kayu Karet (Hevea Brasiliensis Muell Arg). Skripsi Fakultas Kehutanan IPB Bogor. Tidak dipublikasikan.
  • Massijaya, M.Y. 2006. Plywood. Bahan Kuliah Ilmu dan Teknologi Kayu. Program Studi Ilmu Pengetahuan Kehutanan, Sekolah Pascasarjana IPB. Bogor
  • Pizzi, A. 1994. Advanced Wood Adhesives Technology. Marcel Dekker, Inc. New York. USA.
  • SNI. 1992. Standar Nasional Indonesia untuk Kayu Lapis (SNI 01-2704-1992).
  • Tsoumis, G. 1991. Science and Technology of Wood: Structure, Properties, Utilization. Van Nostrand Reinhold, New York. USA.
  • Vick, B. Charles, 1999. Adhesive Bonding of Wood Materials. Wood Hand Book: Wood as an Engineering Material. USA.
  • Youngquist, 1999. Wood Based Composites and Panel Product. Wood Hand Book: Wood as an Engineering Material. USA.

Sumber

Judul: Kayu Lapis (Plywood)

Penyusun: Apri Heri Iswanto, S.Hut, M.Si

Departemen Kehutanan Fakultas Pertanian Sumatera Utara 2008

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *