Keanekaragaman Hayati Indonesia

Pendahuluan

Keanekaragaman hayati ialah suatu istilah yang mencakup semua bentuk kehidupan yang mencakup gen, spesies, tumbuhan, hewan dan mikroorgranisme serta ekosistem dan proses-proses ekologi. Adanya arus globalisasi dan efisiensi menuntut suatu keseragaman, mengakibatkan krisis keragaman di berbagai bidang.

Saat ini keseragaman dianggap sebagai in-efisien dan primitif, dimana keseragaman ialah efisien dan modern. Hal yang sama ini juga terjadi pada keragaman hayati atau sering diistilahkan sebagai keanekaragaman hayati. Pada saat ini proses penyeragaman sudah terjadi pada semua aspek, sehingga terjadi penekanan pada perkembangan keragaman genetik.

Permasalahan

Keanekaragaman hayati kini mulai mengalami berbagai erosi. Perusakan habitat telah mengganggu ekosistem yang akan mengancam berbagai spesies. Eksploitasi spesies flora dan fauna berlebihan akan menimbulkan kelangkaan dan kepunahan spesies.

Penyeragaman varietas tanaman dan ras hewan budidaya menimbulkan erosi genetik sehingga akan menimbulkan krisis keragaman hayati.

Keseragaman spesies dan keragaman hayati erat kaitannya dengan produktivitas. Perkembangan bioteknologi baru yang dapat menggantikan produk biologis dari tanaman dan kerusakan eknomi serta sosial akan mempercepat proses erosi keragaman.

Pemanfaatan keragaman hayati secara ekonomi masih berorientasi pada keuntungan yang besar tanpa memperhatikan dampak terhadap kerusakan lingkungan.

Hasil dan Pembahasan

Keragaman hayati mencakup interaksi berbagai bentuk kehidupan dengan lingkungannya, sehingga bumi dapat menjadi tempat yang layak huni dan mampu menyediakan jumlah besar barang dan jasa bagi kehidupan manusia.

Shah (2008), menjelaskan keanekaragaman ekosistem akan menciptakan keragaman bentuk kehidupan dan keragaman budaya. Pusat keragaman hayati terkaya didunia ada di Indonesia. Kepulauan Indonesia terdiri dari 17.000 pulau, sebagai tempat tinggal bagi flora dan fauna dari dua tipe yang berbeda asal usulnya.

Indonesia memiliki flora dan fauna yang spektakuler dan unik, walaupun daratannya hanya 1,3% dari seluruh daratan di bumi. Indonesia juga memiliki keragaman hayati yang mengagumkan: 10% dari spesies berbunga yang ada didunia 12% dari spesies mamalia dunia, 16% dari seluruh sepsies reptil dan amfibi, 17% dari seluruh spesies burung, dan 25% dari semua spesies ikan yang sudah dikenal manusia.

Keanekragaman hayati baik ekosistem terestrial maupun akatik terus mengalami kemerosotan. Hutan tropis sebagai gudang keanekragaman hayati telah menyusut, begitu juga lahan pertanian telah terdegradasi. Kerusakan juga dialami oleh terumbu karang, mangrove dan kehidupan laut lainnya.

Indonesia dan negara-negara Selatan harus melindungi hak-hak rakyatnya dan hak semua mahluk hidup dari pengikisan oleh industri yang menginginkan adanya hak pribadi atas kepemilikan mahluk hidup. Hak atas keragaman hayati adalah hak kedaulatan setiap negara.

Pemerintah industri dan ilmuwan Indonesia harus menghargai pengetahuan masyarakat asli dari berbagai suku serta mengakui sumbangan mereka terhadap pelestarian plasma nutfa. Pengawasan dan penerapan hukum oleh aparat pemerintah harus lebih kuat sehingga penjarahan plasma nutfah tidak terjadi.

Beberapa hal praktis yang dapat memperbesar hambatan dalam penyelamatan keanekaragaman hayati Indonesia: (a.) insentif bagi peneliti di bidang keanekaragaman hayati masih sangat rendah, sehingga para peneliti lebih memilih bidang lain, (b.) untuk keberhasilan penelitian dibidang keanekragaman hayati diperlukan jangka panjang, sehingga tidak menarik bagi peneliti.

Upaya-upaya agar kepunahan keanekaragaman hayati dapat dicegah secara sistematis, para pakar di International Conservation membuat Daftar Merah IUCN (IUCN Red List) sebagai acuan dalam menentukan data dasar untuk mendapatkan target pencapaian konservasi, serta memfokuskan prioritas aksi penyelamatan keanekaragaman hayati.

Daftar data merah spesies terancam punah pada International Union for the Conservation of Nature (IUCN) telah mencantumkan data, ancaman pada spesies distribusi dan informasi ekologinya. Pmenafaatan data tersebut sangat membantu dan terbukti sangat efektif untuk mendeterminasi dimana prioritas yang dilakukan untuk melakukan konservasi baik pada skalah global hingga pada tingkat individual.

Ilmu pengetahuan diperlukan untuk menginvetarisasi dan identifikasi keanekragaman hayati di Indonesia, dalam hal sebaran, keberadaaan, pemanfaatan dan sistem pengelolanya.

Kesimpulan

1. Negara Indonesia merupakan satu diantara pusat keragaman hayati terkaya di dunia, sehingga Indonesia disebut sebagai negara mega biodiversity yang artinya mempunyai banyak keunikan genetiknya, tinggi keragaman jenis spesies, ekosistem dan endemisnya.

2. Eksploitasi spesies flora dan fauna yang berlebihan akan menimbulkan kelangkaan dan kepunahan, penyeragaman varietas tanaman dan ras hewan budidaya menimbulkan erosi genetik.

3. Ancaman keanekaragaman hayati di indonesia dapat diatasi dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, yaitu dengan cara identifikasi dan inventarisasi keragaman dalam hal sebaran, keberadaan, pemanfaatan dan sistem pengelolaannya.

Daftar Pustaka

Anonymous, 2006a. Keanekaragaman Hayati Hilang Hambat Pengentasan Kemisikinan. http://www.menkokesra,go.id/content/view/846/39.

Anonymous, 2006b. Pemanasan Global Ancaman Terbesar bagi Kehidupan. http://www.geografiana.com/dunia/fisik/pemanasan-global-ancaman-bagi kehidupan.

Anonymous, 2007. Solusi Untuk Menyelamatkan Kelestariannya. http://biologi.or.id/index.php?option=comcontent&task=view&id=15&itemid=2

Shah, A. 2008. Biodiversity.

Endarwati, 2005 Keanekaragaman Hayati dan Konservasinya di Indonesia. http://endarwati.blogspot.com/2005/09/keanekaragaman-hayati-dan.html

Hoffmann, M, Brooks, T.M, Fonseca G.A.B.da, Gascon, C., Hawkins, A.F.A, James, R.E., Langhammer., P., Mittermeier, R.A., Pilgrim, J.D., Rodrigues, A.S.L and J.M.C Silva 2008. Conservation Planning and the IUCN Red List. Endangered Species Research. Perencanaan Konservasi Berbasis Daftar Merah IUCN.

Irwanto, 2006. Prespektif Silvika daam Keanekaragaman Hayati dan Silvikultur.

Kuswanto, E. 2006. Bioimperialisme: Ancaman Terhadap Keragaman Hayati Indonesia.

Shiva, V. 1994. Keragaman Hayati: Dari Bioimperialisme ke Biodemokrasi, Gramedia Pustaka Utama. Jakarta.

Soedradjad, R. 1999. Lingkungan Hidup (Suatu Pengantar) Universitas Indonesia Press. Jakarta

Sumber:

KEANEKARAGAMAN HAYATI INDONESIA

Suatu Tinjauan: Masalah dan Pemecahannya

Sutoyo

PS. Agroteknologi, Fakultas IPSA, Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *