Pengeringan dan Pengawetan Kayu

Kayu dapat diperoleh dari pohon hutan negara atau hutan rakyat dan perkarangan dalam bentuk log/kayu bulat. Log yang diperoleh tersebut tidak/belum siap pakai. Kayu yang siap pakai umumnya dalam bentuk sortimen persegi kondisi kering udara.

Untuk mendapatkan sortimen persegi. log harus melalui tahapan penggergajian kayu sedang untuk mendapatkan kayu kering udara harus dilakukan pengeringan kayu. Pengeringan kayu adalah tindakan mengeluarkan air didalam kayu sehingga kayu dapat mencapai kadar air tertentu sesuai dengan tujuan pemanfaatannya. Pengeringan kayu dapat dilakukan secara alami dan buatan atau dalam tanur pengering.

Usaha pengeringan kayu harus jeli dalam memilih tipe atau cara-cara pengeringan kayu yang dilakukan. Dengan pertimbangan modal usaha, kapasitas, macam produk final kayu dan kualitas yang diinginkan dapat digunakan dalam menentukan pilihan tersebut.

Dikaitkan dengan prosesnya maka kondisi kadar air kayu dan adanya cacat-cacat yang mungkin terjadi sejak awal hingga akhir pengeringan harus mendapat perhatiang sungguh-sungguh.

Untuk kepentingan dalam negeri seperti di Indonesia kadar air siap pakai dalam kondisi kering udara atau produk-produk kayu besarnya sekitar antara 10-18%. Sedangkan untuk kepentingan ekspor ke daerah subtropis kadar air siap pakainya dapat lebih rendah 4-6% kondisi di Indonesia.

Apabila penggunaan kayu atau produk kayu di dalam ruang tertutup yang dilengkapi dengan pendingin/AC atau pemanas/Heater maka kadar air siap pakainya kurang dari 10% (Kasmudjo 2001, 2008, 2010).

Perlakuan pengeringan kayu merupakan usaha yang cukup murah di dalam pengeringan kayu yaitu:

a. Agar kayu menjadi lebih ringan. Dengan kayu yang lebih ringan kapasitas pemindahan atau pengangkutannya akan lebih banyak sehingga menghemat waktu dan biaya.

b. Agar sifat-sifat kayu menjadi lebih baik, antara lain kekuatannya dapat lebih meningkat.

c. Agar kayu lebih stabil dan minimal mengalami perubahan dimensi kayu. Perubahan dimensi besar dapat menurunkan kualitas kayu, misalnya kayu menjadi retak dan pceah-pecah.

d. Agar kayu lebih terhindar dari serangan jamur, cendawan dan lain-lain serangga perusak kayu.

e. Agar kayu lebih mudah direkat. Kayu yang kering porinya relatif terbuka (lebih kosong) sehingga perekat mudah mengisinya dan kemudian mengeras.

f. Agar kayu lebih mudah diawetkan . Dianjurkan kayu yang akan diawetkan mempunyai kadar air 15-20%.

Dalam kaitannya dengan pengawetan kayu hanya dititikberatkan pada pengawetan secara buatan atau pengawetan dengan bahan kimia

Pengawetan kayu secar abuatan adalah proses memperlakukan kayu dengan bahan-bahan kimia atau bahan pengawet, sehingga kayu tersebut dapat terhindar dari serangan jamur, cendawam serangga dan organisme-organisme lain perusak kayu.

Proses pengawetan selalu berkaitan dengan perlakuan pengeringan kayu yaitu apabila dengan proses pengeringan tidak memperbaiki kayu dari serangan organisme perusak kayu, maka kayu harus pula diberikan perlakuan pengawetan.

Pengawetan kayu dapat dilakukan secara ringan dan sederhana, serta sekali saja, tetapi dapat pula dengan perlakuan yang berat dan tekanan, bahkan mungkin lebih dari sekali. Bentuk kayu yang diawetkan dapat berupa kayu bulat, kayu persegi atau dari produk-produk kasar kayu.

Adapun tujuan dari pengawetan kayu (Hunt dan Garrat 1986; Kasmudjo 2001; Yoesoef 976) adalah:

1. Untuk meningkatkan sifat keawetan atau kelas awet alami kayu

2. Untuk mencegah atau menghindarkan kayu dari serangan jamur, cendawan, serangga dan organisme perusak kayu lainnya.

3. Untuk menambah umur pakai kayu

4. Untuk meningkatkan nilai/harga kayu

5. Untuk menghemat penggunaan kayu

Dalam pengawetan kayu secara buatan harus diperhatikan kondisi kayu yang diawetkan, macam dan dosis bahan pengawet yang digunakan, pilihan cara-cara pengawetan yang digunakan dan penilaian atau evaluasi hasil pengawetannya.

Pengawetan kayu harus tepat sasaran dan menggunakan bahan pengawet yang direkomendasikan yaitu yang tidak berbahaya terhadap manusia, mahluk hidup lainnya dan lingkungan.

Sumber:

Judul: Teknologi Hasil Hutan Suatu Pengantar (Identifikasi Kayu, Sifat-Sifat Kayu, Teknologi Pengolahan Hasil Hutan, Potensi dan Prospek)

Penulis: Kasmudjo

Penerbit: Cakrawala Media

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *