Kesehatan Kerja dan Penyakit Akibat Kerja

1. Pengertian Kesehatan Kerja

Definisi kesehatan kerja menurut WHO tahun 1950 adalah kesehatan kerja adalah suatu upaya untuk mempertahankan dan meningkatkan derajat kesejahteraan fisik, mental dan sosial yang setinggitingginya bagi semua pekerja pada semua pekerjaan dari risiko akibat faktor yang merugikan kesehatan, penempatan dan pemeliharaan pekerja dalam suatu lingkungan kerja yang diadaptasikan dengan kapabilitas fisiologi dan psikologi dan diringkaskan sebagai adaptasi pekerjaan manusia dan setiap manusia terhadap pekerjaan.

Definsi tersebut mengalami perubahan, sehingga pada tahun 1995 oleh gabungan WHO dan ILO mendefinisikan kesehatan kerja pada tiga fokus yang berbeda, yaitu: 1) Pemeliharaan dan promosi kesehatan karyawan dan kapasitas kerja, 2) Peningkatan lingkungan kerja dan pekerjaan yang kondusif terhadap K3 karyawan dan 3) Pengembangan, pengorganisasian kerja dan budaya kerja ke arah yang mendukung kesehatan dan keselamatan di tempat kerja dan dalam mengerjakan yang demikian itu juga meningkatkan suasana sosial yang positif dan operasi yang lancar dan dapat meningkatkan produktivitas perusahaan.

2. Definisi Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan. Ditinjau dari definisinya penyakit pada karyawan dapat dikategorikan menjadi tiga, yaitu: 1) Penyakit umum (general diseases),2) Penyakit akibat hubungan kerja (Work related disease/ Disease afeecting Working Populations), dan 3) Penyakit akibat kerja (Occupational Disease).

Penyakit Akibat Kerja (Occupational Disease). Penyakit akibat kerja didefinisikan sebagai semua kelainan atau/ penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja atau pekerjaan. Penyakit ini mempunyai penyebab secara spesifik atau mempunyai hubungan yang kuat dengan pkerjaan, yang ada umumnya terdiri dari satu gen penyebab yang sudah diakui.

Penyakit yang Berhubungan Dengan Pekerjaan (Work Related Disease). Adalah penyakit yang mempunyi bebrapa agen penyebab. Faktor pada pekerjaan memegang peranan bersama dengan faktor risiko lainnya dalam perkembangan penyakit yang mempunyai etiologi kompleks.

Penyakit yang Mengenai Populasi Pekerja (Occupational Disease/ Disease Affecting Working Populations). Penyakit yang terjadi pada populasi pekerja tanpa adanya agen penyebab di tempat kerja, namun dapat diperberat oleh kondisi pekerjaanyang buruk bagi kesehatan.

Di beberapa negara istilah penyakit akibat kerja, bukan penyakit akibat kerja dana penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan diberlakukan sama sebagai penyakit akibat kerja.

3. Penyebab Penyakit Akibat Kerja

Penyakit akibat kerja adalah setiap penyakit yang disebabkan oleh pajanan lingkungan kerja. Lingkungan kerja adalah kondisi sekitar pekerja atau karyawan terbuka maupun tertutup, baik di dalam ruangan maupun di lapangan.

Pajanan sumber bahaya yang berasal dari lingkungan kerja bisa bersumber dari faktor fisik, kimia, biologis dan ergonomi psikologi.

Faktor Fisik. Fakto fisik lingkungan kerja terdiri dari kebisingan, getaran pencahayaan, radiasi, tekanan udara dan iklim kerja.

Kebisingan. Kebisingan adalah suara yang tidak dikehendaki Pada tingkat intensitas suara yang tinggi, pemaparan bising yang berulang dan menahun akan menyebabkan tuli syaraf (sensory neural deafness) yang sulit/ tidak dapat disembuhkan.

Kebisingan tingkat tinggi dapat menyebabkan efek jangka pendek dan jangka panjang pada pendengaran. Kebisingan dengan intensitas tinggi dapat menyebabkan : hilangnya pendengaran, sementara atau permanen, pusing, kantuk, tekanan darah tinggi, tegang dan stress, yang diikuti oleh sakit maag, kesulitan tidur dan sakit jantung, hilangnya konsentrasi, alarm atau teriakan peringatan tidak terdengar.

Radiasi. Radiasi adalah energi yang ditransmisikan, dikeluarkan lalu diabsorbsi dalam bentuk partikel berenergi atau gelombang elektromagnetik. Radiasi yang berada di lingkungan kerja serta dapat mengganggu pelaksanaan pekerjaan terdiri dari 1) Radiasi elektromagnetik dan 2) Radiasi radioaktif.

Tekanan udara. Bahaya tekanan udara ada dua, yaitu tekanan udara tinggi (hiperbarik exposure) dan tekanan udara rendah (hipobarik exposure). Tekanan udara tinggi (Hiperbarik Exposure).

Tekanan udara yang terlalu tinggi dapat berbahaya bagi kesehatan tenaga kerja. Tekanan udara yang tinggi ditemui di bawah laut. Pekerja yang sering terpapar oleh tekanan udara tinggi ini adalah penyelam mutiara, penggali tambang di bawah tanah (confined space).

Semakin dalam dari permukaan laut maka tekanan udara semakin tinggi. Akibat tekanan udara yang meningkat akan menyebabkan terjadinya compresion sickness.

4. Diagnosis Penyakit Akibat Kerja

Diagnosis atau identifikasi penyakit akibat kerja yang terjadi pada suatu populasi pekerja dapat dilakukan dengan menggunakan dua pendekatan, yaitu pendekatan epidemiologis dan pendekatan klinis.

Pendekatan Epidemiologis. Pendekatan ini terutama digunakan apabila ditemukan adanya gangguan kesehatan atau keluhan pada sekelompok pekerja. Pendekatan ini diperlukan untuk mengidentifikasi adanya hubungan / kausal antara suatu pajanan dengan penyakit.

Sebagai hasil dari berbagai penelitian epidemiologis makin banyak berhasil diidentifikasikan pajanan yang dapat menyebabkan penyakit. Identifikasi tersebut mempertimbangkan 1) kekuatan asosiasi, 2) konsistensi, 3) spesifitas, 4) adanya hubungan waktu dengan kejadian penyakit, 5) hubungan dosis dan 6) penjelasan patofisiologis.

Pendekatan Klinis (Individual). Pendekatan ini perlu dilakukan untuk menentukan apakah seseorang menderita penyakit yang disebabkan oleh pekerjaannya atau tidak.

Langkah-langkah yang harus dilakukan adalah menentukan diagnosis klinis, menentukan pajanan yang dialami oleh individu tersebut dalam pekerjaan, menentukkan apakah ada hubungan antara pajanan dengan penyakit, menentukan apakah pajanan yang dialami cukup besar, menentukan apakah ada faktor-faktor individu yang berperan, menentukan diagnosis penyakit akibat kerja/hubungan kerja.

5. Program Kesehatan Kerja

Untuk memastikan program kesehatan kerja berjalan dengan baik perlu ada program kesehatan kerja. Beberapa program kesehatan kerja antara lain surveilens kesehatan kerja, Sistem Informasi Kesehatan dan Keselamatan Kerja (SIMKK), pelayanan kesehatan kerja, pemeriksaan kesehatan kerja dan promosi kesehatan di tempat kerja.

Surveilens Kesehatan Kerja. Surveilens kesehatan kerja adalah suatu proses pengamatan secara terus menerus dan sistematik terhadap kesehatan seluruh karyawan serta kondisi di lingkungan kerja yang meningktkan resiko terjadinya Penyakit Akibat Kerja (PAK).

Penyakit Akibat Hubungan Kerja (PAHK) dan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dengan cara pengumpulan data, analisis dan penyebaran informasi serta tindak lanjut upaya untuk menguraikan, memantau suatu peristiwa kesehatan sehingga dapat dilakukan pencegahan efektif terjadinya penyakit dan upaya perbaikan kondisi lingkungan kerja. 

Sistem Informasi Manajemen Kesehatan Kerja (SIMKK). Untuk pengembangan program kesehatan kerja di Indonesia yang efektif dan efisien, diperlukan data dan informasi yang akurat, tepat waktu dalam sistem informasi kesehatan kerja (SIMKK) yang terintegrasi dan lengkap untuk mendukung proses perencanaan di bidang kesehatan kerja serta menentukan langkah-langkah kebijakan selanjutnya.

Pelayanan Kesehatan Kerja. Beberapa elemen penting dalam pelayanan kesehatan kerja adalah 1) Pelaksanaan tugas pokok pelayanan dan 2) Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja.

Penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja. Pembentukan dan cara penyelenggaraan pelayanan kesehatan kerja tergantung dari jumlah tenaga kerja dan tingkat bahaya di tempat kerja.

Jumlah tenaga kerja lebih 500 orang, pelayanan kesehatan berbentuk klinik. Klinik ini harus dipimpin seorang dokter yang praktek tiap hari kerja.

Pemeriksaan Kesehatan. Pemeriksaan ini bertujuan agar tenaga kerja yang diterima berada pada kondisi kesehatan yang setinggitingginya, tidak mempunyai penyakit menular yang dapat menularkan penyakitnya pada tenaga kerja lainnya, dan untuk menyerasikan tenaga kerja dengan pekerjaan yang akan dilakukan demikian sehingga kesehatan dan keselamatan dari pekerjaan atau lingkungan kerja.

Pemeriksaan kesehatan kerja dilakukan sebelum kerja, berkala atauperiodik dan
pemeriksaan kesehatan kerja dengan tujuan khusus.

Promosi kesehatan kerja. Menurut WHO (1996) fokus program promosi kesehatan kerja di tempat kerja, bermanfaat selain untuk meningkatkan derajat kesehatan dan kebugaran atau kapasitas kerja, juga dapat mencegah penyakit degeneratif kronik seperti misalnya penyakit jantung koroner, stroke, kanker, penyakit paru obstruksi kronik dan lain lain.

Bahkan penyakit degeneratif kronik itu,kini telah menjadi penyebab kematian nomor satu pekerja usia prima melebihi kematian yang disebabkan oleh kecelakaan kerja, penyakit akibat kerja maupun penyakit menular.

6. Ringkasan
  1. Penyakit akibat kerja adalah penyakit yang diakibatkan oleh lingkungan kerja atau didapatkan karena suatu pekerjaan. Penyakit akibat kerja mempunyai karakteristik menimpa pada pekerja suatu lingkungan kerja tertentu.
  2. Penyakit akibat kerja disebabkan oleh faktor fisik, kimia, biologis, fisiologis, psikologis.
  3. Untuk menegakkan diagnosis terhadap suatu penyakit akibat kerja ada beberapa tahap yang harus dilalui yaitu wawancara, pemeriksaan klinis, laboratoris dan rontgen.

Sumber

Judul: Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Penyusun: Anita Dewi Prahastuti Sujoso

Penerbit: UPT Penerbitan UNEJ, Jl. Kalimantan 37 Jember 68121

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *