Manajemen Mutu Masjid – Bagian 1

Bagian 1

Latar Belakang Permasalahan

Masjid bukan sekedar tempat sujud sebagaimana makna harfiahnya, tetapi memiliki beragam fungsi. Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, masjid tidak hanya berfungsi hanya sebagai tempat ritual murni (ibadah mahdah seperti shalat dan itikaf.

Masjid Nabawi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan, sentra pendidikan, markas militer dan bahkan lahan sekitar masjid pernah dijadikan sebagai pusat perdagangan..

Rasulullah menjadikan masjid sebagai sentra utama seluruh aktivitas keummatan. Baik untuk kegiatan pendidikan yakni tempat pembinaan dan pembentukan karakter sahabat maupun aspek-aspek lainnya termasuk politik, strategi perang hingga pada bidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya.

Pendek kata, masjid difungsikan selain sebagai pusat kegiatan ibadah rilual juga dijadikan tempat untuk melaksanakan ibadah muamalah yang bersifat sosial.

Masjid tidak luput dari berbagai problematika, baik menyangkut masalah pengurus, kegiatan, maupun berkenaan dengan jama’ah. Jika saja problematika masjid ini dibiarkan begitu saja, maka hal inilah yang akan menjadikan tantangan bagi masjid.

Secara umum ada dua tipe kecenderungan penyimpangan dalam pengelo-laan masjid-masjid zaman sekarang. Pertama pengelolaan masjid secara konven-sional.

Gerak dan ruang lingkup masjid dibatasi pada dimensi-dimesi vertikal saja sedang dimensi-dimensi horizontal kemasyarakatan dijauhkan dari masjid.

Indikasi tipe pengelolaan masjid jenis ini adalah masjid tidak digunakan kecuali untuk shalat jamaah setelah itu masjid dikunci rapat-rapat. Bahkan terkadang jamaah pun hanya tiga waktu; Maghrib Isya’ dan Shubuh. Tipe lainnya adalah pengelolaan masjid yang melewati batasan syarat.

Biasanya mereka berdalih untuk memberi penekanan pada fungsi sosial masjid tetapi mereka kebablasan. Maka diselenggarakanlah berbagai acara menyimpang di masjid.

Misalnya pesta pernikahan dengan pentas musik atau tarian perayaan hari-hari besar Islam dengan ragam acara yang tak pantas diselenggarakan di masjid dan sebagainya.

Mereka lebih mengutamakan dimensi sosial -yang ironinya menabrak syari’at Islam- dan tidak mengabaikan fungsi masjid sebagai sarana ibadah dalam arti luas.

Belum lagi tiap masjid akan mempunyai masalah tersendiri yang berbeda dari masjid lainnya. Misalnya masjid kurang terurus jarangnya pengurus dan jamaah sekitarnya yang shalat ke masjid terjadinya perselisihan antar pengurus dalam menentukan kebijaksanaan masjid yang tidak lagi buka 24 jam dan lain sebagainya.

Nampaknya faktor internallah yang menjadi penyebab utama terbengkalainya rumah-rumah Allah tersebut.

Beberapa kendala yang ditemukan dalam upaya menjadikan masjid sebagai pusat pembinaan umat  dan pengembanagn risalah.

kendala ini tidak terjadi begitu saja tanpa penyebab, baik akibat kesalahan umat kita maupun akibat faktor luar diluar control dan jangkauan kita. Beberapa penyebab dapat dikemukaakan sebagai berikut:

1. Perbedaan Pandangan

Polalirasi umat islam akibat pertikaian politik baik aliran politik zaman mengakibatkan masjid menjadi salah satu penyebab perbedaan “kami dan kamu”. Sehingga masjid di Indonesia membuat pengelompokan sendiri ada masjid muhamadiyah, masjid NU, masjid Alwashiliyah, masjid persisi dan lain lain.

Yang lebih aneh lagi dalam  suatu kampung  tidak jarang  yang memiliki dua atau tiga buah masjid. Keadaan ini menimbulkan pemborosan energi ummat islam dalam membangun masjid dengan dan investasi yang begitu besar, pemborosan karena biaya pengelolaan yang perlu ditanggung, terkurasnya kekayaan umat, berkurangnya pengembangan ide, akhirnya timbul konflik sehingga kekuatan umat islam terbagi menjadi lebih kecil dan akhirnya melemah dan bermuara pada kelemahan umat islam secara keseluruhan.

Kemungkinan besar pola ini merupakan kesenjangan dan merupakan strategi rapi dari kalangan penjajah sejak dulu dengan “devide et ampera” atau menguasai umat islam dan menghancur-kannya dari dalam.

2. Faktor Ekonomi

Tingkat kesejahteraan ekonomi ummat yang masih bergelut dengan kemiskinan juga merupakan kendala pengembangan masjid sebagai pusat kebudayaan ibadah

3. Faktor Keahlian

Tingkat intelektualitas dan keakhlian rata-rata ummat islam pada awalnya memang cukup menyedihkan, sehingga tidak terfikir bagaimana sebaiknya mengelola masjid secara professional.

4. Ketiadaan Perencanaan

Tidak adanya konsep manajemen termasuk konsep perencanaan tentang fungsi masjid juga mengurangi optimalisasi masjid.

5. Jamaah dan Struktur Organisasi

Sulit kadangkala mengidentifikasi siapa pemilik dan penguasa masjid jugan dapat menjadi kendala. Setiap orang merasa ikut memiliki masjid, pada saat yang sama setiap orang merasa tidak bertangggung jawab pada masjid. Keadaan ini menimbulkan kesulitan dan menentukan siapa mengtur siapa dan siapa yang harus kita dengar.

6. Pemahaman Fiqih

Bebera pendapat yang sangat ketat tentang masjid pada masa lalu seperti banyaknya yang tidak boleh daripada yang boleh. Seperti tidak boleh hiburan, tidak boleh rebut, anak-anak tidak boleh dibawa kemasjid, tidak boleh pemuda main-main dimasjid. Sehingga masjid dibiarkan sendiri sebagai pusat ibadah saja, dan tempat yang soleh saja.

7. Pengetahuan Umat

Kurangnya pengetahuan pada konsep islam, khususnya tentang bagaimana peranan masjid dalam membangun umat, menimbulkan keengganan dalam memenej masjid.

8. Dominasi Ulama

Aggapan yang salah dalam mengurus masjid juga memberikan andilnya. Ada anggapan yang menyatakan masjid hanya boleh diurus oleh para kyai atau mereka yang menguasai agama, sehingga mereka yang mempunyai potensi dan kemauan tetapi bukan ulama tidak berani tampil.

9. Pengurus Tertutup

Pengurus dengan corak kepemimpinan tetutup biasanya tidak peduli terhadap apresiasi jamaahnya. Mereka mengaggap diri lebih tahu dan bersikap masa bodoh atas usulan dan pendapat. Apabila pengurus berwatak seperti ini sangat  riskan mengharapkan masjid yang maju dan makmur sesuai dengan fungsinya.

10. Jemaah Pasif

Dalam pembangunan ataupun dalm pelaksanaan kegiatan-kegiatan masjid, dukungan dan partisifasi dari jamaah sangat diharapkan. Dinamika sebuah masjid hanya terjadi aktif mau peduli, mau berbagi, ringan langkahnya dan sudi berderma.

Kebanyakan jamaah pasif cederung tidak menyimak khutbah khotib ketika salat jum’at. Mereka malah tidur di masjid; suatu pemandangan meyedihkan tetapi kerap kita jumpai.

11. Berpihak pada Satu  Golongan atau Paham

Pengurus masjid yang dalam melaksanakan tugas pembangunan ataw kegiatan pelaksanaan ibadah memihak satu golongan atau paham akan mengakibatkan jemaah itu pasif. Menolak sikap / paham golongan yang kebetulan tidak sehaluan, disamping tidak memperlihatkan jiwa besar, juga akan menjadikan kegiatan masjid kehilangan gairah.

12. Kegiatan Kurang

Memfungsikan masjid semata-mata sebagai ibadah solat jum’at otomatis menisbikan inisiatif untuk menggelorakan kegiatan-kegiatan lain. Masjid hanya ramai dalam seminggu, di luar jadwal itu barangkali hanya para musafir yang datang untuk salat dan beristirahat.

Masjid seperti ini namanya tetap masjid tapi sugguh jauh dari status maju apalagi makmur. Masjid “nganggur” semacam ini memerlukan suntikan program untuk lebih berfungsi.

13. Kebersihan Kurang diantaranya Tempat Wudhu Kotor

Kurangnya pemeliharaan mengakibatkan masjid kotor dan rusak. Bila tepat mengambil air wudlu dan Wc-nya kurang dirawat dan dibersihkan, dari situ meruyak bau yang menyengat.

Bau tidak sedap itu dapat menganggu orang-orang yang hendak beribadah di masjid.  problem tersebut terkait kondisi toilet yang masih sangat memprihatinkan, lingkungan yang tidak terurus, dan minimnya jamaah pada  waktu shalat fardhu. Kondisi masjid seperti itu, ujarnya,  menunjukkan jika pengelolaan masjid belum maksimal.

Permasalahan yang dihadapi takmir  dibeberapa masjid adalah:

  • Pengurus tidak aktif. Kurangnya tanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan. Ada beberapa pengurus takmir yang tidak mempunyai rasa tanggung jawab dalam berorganisasi. Misalnya seorang yang duduk di seksi usaha dana tidak siap siaga dalam hal pencarian dana masjid sehingga minimnya pemasukan kas masjid.
  1. Pengurus takmir kurang mengetahui terkait manajemen masjid yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, evaluasi, dan administrasi.
  2. Pengurus takmir kurang mengetahui tentang fungsi-fungsi masjid yang ideal.
  • Pengurus takmir kurang mengetahui tugas pokok dan fungsinya sebagai pengurus.
  1. Kepemimpinan yang kurang maksimal. Misalnya sebagai seorang ketua belum bisa maksimal memimpin bawahan dan kurang mempunyai kemampuan dalam berkomunikasi sehingga koordinasi antar bagian tidak dapat berjalan dengan baik.
  2. Takmir belum bisa mencari pemasukan dana guna operasional kegiatan masjid.
  • Minimnya kegiatan ketakmiran, misalnya tidak pernah diadakan pengajian dalam rangka Peringatan Hari Besar Islam (PHBI).

Dari uraian di atas tampaklah bahwa pengelolaan masjid yang sesuai  Alquran dan hadist dan mutu pengelolaan sangat penting dan harus segera dilakukan.

Hal ini untuk  meningkatkan peran dan fungsi masjid dan peningkatan  mutu masjid  agar mampu menjadi tempat  yang bermutu dan menjadi pusat perdababan dan kekuatan umat.

lanjut ke bagian 2

by Thomas Hidayat K

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an dan Hadits

Ayub, Moh.E. Mukhsin MK. Ramlan Marjoned. 2001. Manajemen Masjid; Petunjuk Praktis bagi Para Pengurus. Jakarta:  Gema Insani PressHal,21

http://www.bbc.co.uk/indonesia/laporan_khusus/2009/11/091125_mosque_uk.shtml

Hardjosoedarmo S, 2001. Total Quality Management. Yogyakarta. Penerbit And

Jusmawati, dkk,2006, Manajemen Masjid dan Aplikasinya, The Minangkabau Foundation, Jakarta.

Nasution, M Nur.2015. Manajemen Mutu Terpadu. Jakarta Ghalia Indonesia

Robbins, Coulter. 2009. Manajemen edisi Kedelapan. Jakarta. PT. Indeks

Rasyad, Roslaini, dkk, 2006, Manajemen dalam perspektif Islam, IAIN Imam Bonjol, Padang.Tjiptono, Fandy & Anastasia Diana, Total Quality Managemetn (TQM)Yogyakarta, 2003

Suhandang, Kustadi, 2007,Manajemen Pers Masjid, Marja, Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *