Manajemen Mutu Masjid – Bagian 3

2. Konsep Dasar Manajemen Mutu Masjid

Dalan mengelola masjid  harus sesuai  Alquran dan hadist dan mutu pengelolaan sangat penting dan harus segera dilakukan. Hal ini untuk  meningkatkan peran masjid dan peningkatan  mutu masjid  agar mampu menjadi tempat  yang bermutu dan menjadi pusat perdababan dan kekuatan umat. Untuk menghasilkan  pengelolaan masjid yang bermutu  harus dilakukan penerapan prinsip prinsip  sesusi dengan tuntutan rasulullah dan ilmu manajemen

Sejak Lima belas abad yang lalu rasululullah telah mencanangkan pentingnya kualitas dalam berkarya dan melayani. Dalam sebuah hadit Rasulullah menyatakan   Dari Aisyah رضي الله عنها , bersabda Rasulullah  “Allah ʽazza wa jalla menyukai jika salah seorang di antara kalian melakukan suatu amal secara itqan.”.  Itqan bermakna  melakukan amal secara efektif dan efisien, sehingga dapat terselesaikan secara optimal, dari segi proses dan waktu. Dalam kalimat Bahasa Arab kata itqan dipergunakan untuk menujukan kualitas suatu amal (pekerjaan)

Manajemen masjid berasal dari dua kata, yaitu manajemen dan masjid.  Manajemen, berasal dari kata manage yang berarti mengurus, membimbing, mengawasi, mengelola atau mengatur.  Manajemen juga berarti proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.  Sedangkan masjid berasal dari kata “Sajada” – “Yasjudu” – “Sajadan” yang berarti membungkuk, berkhidmat dan menundukkan kepala. Sedangkan kata masjid memiliki arti dan makna tempat bersujud.  Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa manajemen masjid berarti proses atau usaha untuk mencapai kemakmuran masjid secara ideal yang dilakukan oleh pemimpin      pengurus masjid bersama staf dan jamaahnya melalui berbagai aktivitas yang positif.  Manajemen Masjid juga merupakan upaya memanfaatkan faktor-faktor manajemen dalam menciptakan kegiatan masjid yang lebih terarah dan diperlukan pendekatan sistem manajemen, yaitu planning, organizing, actuating, dan controlling.  Ismail Raji Al Faruqi pernah menegaskan bahwa masjid bukan sekedar tempat sujud sebagaimana makna harfiahnya, tetapi memiliki beragam fungsi.  Menurut pakar kebudayaan Islam asal Palestina itu, sejak zaman Nabi Muhammad Saw. masjid tidak hanya berfungsi hanya sebagai tempat ritual murni (ibadah mahdah seperti shalat dan itikaf. Masjid Nabawi juga berfungsi sebagai pusat pemerintahan, sentra pendidikan, markas militer dan bahkan lahan sekitar masjid pernah dijadikan sebagai pusat perdagangan. Rasulullah menjadikan masjid sebagai sentra utama seluruh aktivitas keummatan. Baik untuk kegiatan pendidikan yakni tempat pembinaan dan pembentukan karakter maupun aspek-aspek lainnya termasuk politik, strategi perang hingga pada bidang ekonomi, hukum, sosial dan budaya. selain sebagai pusat kegiatan ibadah rilual juga dijadikan tempat untuk melaksanakan ibadah muamalah yang bersifat sosial. Pola pembinaan umat yang dilakukan Rasulullah yang berbasis di masjid hingga kini diikuti oleh pengurus dan pengelola masjid di seluruh dunia, termasuk di tanah air. Masjid difungsikan menjadi dua fungsi pusat ibadah ritual dan pusat kegiatan umat (Islamic Center). Oleh karena itu dalam mengelola masjid harus   melakukan pengelolaan dengan itqan/bermutu.

lanjut ke bagian – 4

by Thomas Hidayat K

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *