Manajemen Risiko Fatigue (Fatigue Risk Management)

Pertimbangan Perlunya Fatigue Management
  • Apakah ada perjalanan ke tempat kerja yang dapat memperpanjang hari kerja?
  • Apakah pekerja diharuskan bekerja dengan jam kerja yang tidak teratur, pola shift atau on call?
  • Apakah tugas pekerja secara mental adalah hal yang penting?
  • Apakah pekerja melakukan pekerjaan secara aktif atau tidak aktif?
  • Apa terdapat insiden, kerusakan properti, kehilangan produksi, kesalahan klerikal, bencana atau sesuatu yang lebih buruk yang terkait dengan kelelahan yang benar-benar terjadi pada pekerja?
  • Apakah kondisi kerja fisik membutuhkan aktivitas berat atau bekerja dalam kondisi ekstrim?
  • Apakah ada kerugian atau kejadian yang tidak dapat dijelaskan, dimana tidak ada penyebab yang dapat diidentifikasikan namun kelelahan tidak dapat dikesampingkan?
  • Apakah ada persyaratan untuk harus merespon terhadap alam atau peringatan?
  • Apakah urutan tugas atau alur kerja memicu terjadinya kesalahan terkait kelelahan?
Definisi Fatigue Risk Management

Fatigue risk management system/FRMS, merupakan sistem manajamen yang berfokus pada satu risiko yaitu fatigue. FRMS digambarkan sebagai “proses eksplisit dan komprehensif untuk mengukur, mengurangi dan mengelola” risiko kelelahan yang sebenarnya dimana perusahaan dan karyawannya terpapar.

FRMS merupakan proses berbasis eviden dan data yang terdokumentasi yang memungkinkan perusahaan yang mengembangkan tingkat pengendalian yang sesuai dengan peningkatan tingkat fatigue sebagai bagian integral dari sistem manajemen K3.

Komponen FMRS:

  1. Fatigue Management Policy
  2. Fatigue Risk Management (Risk Assessment and Mitigation)
  3. Fatigue Reporting Systems
  4. Fatigue Incident Investigation
  5. Fatigue Training and
  6. Continous Monitoring of System Effects
Fatigue Risk Management Plan (FRMP)

FRMP adalah rencana atau sistem pengendalian berbasis risiko yang mengidentifikasi, memantau dan mengelola risiko kelelahan, dengan tujuan untuk memastikan bahwa, semaksimal mungkin karyawan dapat melakukan pekerjaan dengan tingkat kewaspadaan yang memadai.

Tanggung Jawab Terhadap Manajemen Risiko Fatigue

Pemerintah:

  • Menyusun persyaratan atau kerangka kerja sistem Manajemen Risiko Fatigue
  • Menilai pemenuhan peraturan
  • Audit terhadap ketidakpatuhan
  • Investigasi kecelakaan dan insiden bila diperlukan

Organisasi/Perusahaan:

  • Memberikan dukungan
    – Pemenuhan peraturan
    – Pengembangan kebijakan
    – Training dan pendidikan
    – Sistem pelaporan error/incident
  • Memastikan jadwal kerja memberikan kesempatan yang cukup untuk istirahat dan pemulihan diantara shift
  • Melakukan penilaian risiko terkait fatigue terhadap tugas-tugas yang ada secara spesifik

Individu:

  • Menggunakan waktu libur secara tepat untuk mendapatkan istirahat dan pemulihan yang cukup
  • Melaporkan setiap potensi risiko kepada pemimpin jika mengalami gejala-gejala terkait fatigue
  • Melaporkan setiap situasi yang dapat menimbulkan risiko terkait fatigue

4 Prinsip Fatigue Risk Management

  • FRM harus customize dan sesuai dengan organisasi
  • Berbasis pada hasil analisis risiko dan eviden
  • Dikembangkan atas dasar sharing responsibility
  • Harus terintegrasi dengan sistem manajemen K3 yang ada
Kebijakan atau Komitmen
  • Kebijakan fatigue harus ada sesuai dengan tingkat risiko fatigue di tempat kerja
  • Kebijakan fatigue umumnya mencakup:
    – Tugas resmi dan sesuai dengan peraturan keselamatan di jalan raya
    – Sejalan dengan kebijakan terkait lainnya
    – Senior management responsibility
    – Prosedur untuk mengendalikan risiko dari pihak ketiga
    – Definisi peran dan tanggung jawab
    – Investigasi kecelakaan dan pelaporan dan tindakan yang diambil saat terjadi kecelakaan di jalan raya
    – Komitmen keselamatan dalam memilih kendaraan yang akan dioperasikan
    – Komitmen untuk menjaga agar seluruh pekerja terlatih dan mendapatkan informasi tentang fatigue management
Peran dan Tanggung Jawab

Penetapan peran dan tanggung jawab setiap pihak yang terkait, seperti:

  • Company directors
  • Staff who procure contractors
  • Senior and line managers
  • Individuals responsible for the management of contractors
  • Supervisors
  • Drivers
  • Occupational health
  • Trainers
Konsultasi

Pimpinan memiliki tanggung jawab hukum untuk berkonsultasi dengan tenaga kerja, mencakup diskusi dengan supir, perwakilan keselamatan, manajer dan jika ada kontraktor independen dan pegawainya. Hal yang dikonsultasikan termasuk mengidentifikasi dan menilai bahaya, membuat keputusan tentang bagaiman mengendalikan risiko kelelahan pengemudi dan pengembangan kebijakan kelelahan.

Adapun metode yang dipilih, konsultasi didasarkan pada pengakuan bahwa masukan dan partisipasi karyawan untuk memperbaiki pengambilan keputusan dan budaya keselamatan pengemudi.

Analisis Risiko Fatigue

Mencakup:

  1. Hazard identification involves identifying the activities that may pose a risk
  2. Risk assessment describes the process of evaluating the extent of the risk arising from the exposure to the hazard
  3. Risk control is the process of addressing the risk by eliminating or minimizing its effect
  4. Evaluation is the process of checking the extent to which the control measures have been successful.

Sumber

Judul : Manajemen Kelelahan (Fatigue) Pekerja

Penyusun: Hendra

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *