Cara Mengelola Marah

Berdasarkan pendekatan neuro-semantics, saya share sebagian cara mengelola marah.

Pahami :

– Marah adalah emosi. Emosi adalah penanda adanya perbedaan antara experience dengan expectation.
– Karena penanda, emosi selalu benar bagi yang merasakannya.
– Emosi adalah ‘feel of meaning’. Penciptaan meaning merupakan proses kognitif. Meaning yang berhubungan dengan central nervous system menghasilkan sensasi di fisiologis.
– Oleh karenanya Emosi adalah derivatif dari cognitive-map. Dengan demikian mengubah emosi dilakukan dengan mengubah proses kognitif (mind).
– Dengan demikian emosi hanya symptom, bukan problem. Problemnya ada di cognitive-map, yaitu di frame of mind.
– Bersama mind dan fisiologi/body, emosi akan membentuk state. Dengan demikian mengubah emosi juga dapat dilakukan dengan mengubah fisiologi.
– Karena emosi itu multi-ordinal, dapat dinaikkan atau diturunkan intensitasnya, dan dapat di-apply dengan emosi lainnya (meta-stating).

Persiapan sebelum datangnya marah/emosi :

– Berlatih untuk terus memeriksa, membaharui, menguatkan pemaknaan atas segala sesuatu.
– Latihan memiliki kemampuan up-time, yaitu zero-mind saat dibutuhkan.
– Latihan membangun kemampuan ‘friendship to reality’.
– Latihan memiliki self-esteem dan diri yang baik.
– Membangun niat-niat dan tujuan-tujuan baik.
– Memahami konteks-konteks situasi : orang yang terlibat, waktu, tempat, proses yang terjadi, sehingga terhindar dari cognitive distortion.
– Latihan menguatkan power-zone, yaitu memiliki dan bertanggungjawab atas pikiran, perasan, ucapan, dan tindakan diri sendiri. Mampu mengenali perbedaan responsible for (bertanggungjawab atas) dan responsible to (bertanggungjawab untuk), mana yang bagian diri sendiri mana yang bukan.

Caranya :

1. Make friend to reality. Up-time. Ambil jeda, boleh state-breaking, Secara fisiologis, misalnya tarik nafas, mengalihkan pandangan ke atas, mengubah postur dan gesture. Di Islam diberi tips : duduk, berbaring, atau ambil wudhu.
1. Mengenali emosi secara spesifik. Seringkali kita salah memberi nama emosi kita antara bete, kesal, marah, jengkel, jijik, takut, karena secara fisiologi tampakannya sama. Ini juga butuh skill.
2. Menerima situasi yang telah terjadi, dan mengenali mana yang dalam kendali, mana yang bukan, mana yang kita bertanggungjawab atas, mana yang bertanggungjawab untuk, mana yang bukan.
3. Menerima sang emosi. Memberi izin kepada diri untuk menerima emosi. “I give myself permission to feel angry”.
4. Mengambil expectation dan value dari emosi. “Apa maksud baikmu muncul wahai marah?”. Dengarkan.
5. Berterimakasih telah memberi tahu apa pesan/maksud di balik sang marah.
6. Setelah melakukan ‘perdamaian’ dengan diri sendiri tersebut, maka dapat memeriksa kembali dan menentukan : makna, niat, solusi, rencana, emosi/state yang dibutuhkan untuk membantu tindak-lanjut/solusi sesuai konteks dan tujuan. Fokus kepada ekspektasi yang berhasil didengar tadi.
7. Berterimakasih sekali lagi kepada emosi dan diri sendiri yang telah support.

Dari berbagai sumber,

Referensi Prasetya M Brata

Disarikan/disadur by VemmiKD

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *