Daster (Aku Bangga Menjadi Guru)

“Fida… paket untuk kamu!” Seru Bunda Nurul dari balik pintu kamar 7-4. Fida mendongak, mengalihkan pandangan dari buku kimianya. Beberapa kepala dalam kamar ikut menoleh. “Wah, enak ya… Fida dapat kiriman lagi.” Komentar Fauzia. “Apaan isinya Fid, makanan ya…?” Mata bulatnya mengedip penasaran. “Paling pesananku, kamus bahasa Arab. Eh, tapi entahlah, sepertinya ada yang lain nih, dipegang kok empukempuk gitu…”. Fida meraba-raba paket yang terbungkus kertas coklat di tangannya. “Puding kali…”. Celetuk Rifa tanpa menoleh, sibuk dengan PR kimia-nya. “Puding? Yang bener aja Rif…. “ Nabila yang asyik baca novel sambil tiduran tersenyum geli.

“Dalam paket begini mana mungkin ada puding, udah bonyok dari sananya, berapa sih nilai IPA kamu?” “Emang, lihat aja dari kemarin Rifa ngotak-ngatik PR kimia terus.” Selly ikut nimbrung. Rifa cuma bisa nyengir kuda. “Makanya neng, kalo Bunda Rina lagi nerangin tuh dengerin, jangan ngitung bulu mata melulu…” . Kata Nabila lagi. Ditutupnya buku tebal yang belum selesai dibacanya itu. “Ngitung bulu mata?” Selly bertanya bingung. “Tidur neng.” jawab Nabila. Mata bulatnya semakin membesar, gemas pada Selly yang dianggapnya agak lola. Saat itulah matanya tertaut pada sebuah benda dalam genggaman Fida yang kini sudah duduk bersila di lantai.

“Ih… Fida, apaan tuh… lihat dong!” Nabila bergegas mendekati Fida. “Apaan Fid, kerudung ya…?” Nabila penasaran. Tangannya ikut memegang kain lembut yang baru saja dipegang Fida. Fida merobek kertas pembungkus paket lebih lebar. Rasa penasaran menggelitik hatinya. “Tahu nih, tapi warnanya lucu ya.” Fida menarik kain warna warni itu dibantu Nabila. Sehelai baju panjang terbuat dari kain batik. Coraknya lucu bernuansa cerah. Warnanya saling silang merah, biru, kuning, dan hijau. Sungguh indah. “Apaan sih.” Fauzia yang sedari awal sudah penasaran, kini mendekat, diikuti hampir seisi penghuni kamar. Tangannya mengambil alih kain dari pegangan Fida.

Kemudian diangkatnya tinggi-tinggi. Meneliti sejenak. Pada detik berikutnya, tawanya langsung meledak. “Hahaha ya ampun Fid, ini kan daster!” Entah karena memang lucu atau karena solidaritas sesama teman sekamar, kini hampir seluruh gadis-gadis berusia 13-14 tahun itu mengikik geli. “Iya Fid, ini mah daster atuh. “ Aufa yang asli Subang menguatkan kata-kata Fauzia. Tangannya separuh menutup mulut menahan tawa. “Emangnya kenapa sih, daster kan baju perempuan, bagus lagi warnanya, kok kalian tertawa.?” Selly, seperti biasa, terbengong tak mengerti. Boro-boro tertawa, senyum aja nggak, yang ada hanya tatapan polos tanda tak ngeh. “Ya ampun Sell, nggak ngikut trend mode ya.“

Bitha menyela. Maklumlah, konon kabarnya mama Bitha punya beberapa outlet busana muslim yang tersebar di beberapa kota besar. Pastilah tahu mode-mode busana remaja yang lagi trend. “Daster itu kan!” Lanjut Bitha sambil sudut matanya melirik Fida yang hanya tersenyum kecut. “Maaf ya Fid, daster itu kan pakaiannya nenek-nenek atau nggak emak-emak.” Gerr… Tawa kembali memenuhi ruang. Hembusan angin pegunungan desa Tambak Mekar menerbangkan suara gelak itu ke setiap sudut lain asrama putri Boarding School SMPIT Assyifa. Menggiring berpasang kaki yang berlarian kemudian. Menuju sumber suara tawa berasal.

“Hey… ada apaan sih? Girang betul nampaknya kalian nih.” Sesosok gadis berkacamata dan berjilbab hijau muda menjulurkan kepalanya di pintu. Beberapa detik berikutnya bermunculan pula kepala-kepala berjilbab aneka warna lainnya. “Eh, Arin. Sini deh. Masa Fida dapat kiriman daster dari ibunya. Hi…hi….” Bitha melambai ke arah Pintu. “Ha… daster? Ya ampun Fid, ibu kamu lucu banget sih. Daster mah biasanya dipakai ibu-ibu, malah nenekku hampir setiap hari pakai daster kalau di rumah.” Arin ikut terkekeh. “Tuh kan Fid, betul kata aku.” berkata Bitha sambil memamerkan daster itu pada teman-teman kamar sebelah yang kini sudah berdiri mengelilingi Fida.

“Oh, begitu ya. Ya ampun! Ibu … ibu…” Fida mau tak mau ikut tertawa. Berusaha menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. “Eh, lihat deh, aku cobain ya.“ Bitha memakaikan daster itu ke tubuh mungilnya, sambil mematut-matut diri di depan cermin kamar. “Hik…hik… kamu mirip nenek aku Bith. Mirip banget deh. Duh, jadi kangen nenek nih…” Komentar Arin sambil tertawa lepas. Tawanya, juga tawa teman seisi kamar, menyisakan pedih dan kesal di hati Fida. Mengoarkan sejumlah rutukan dalam hati : Ngapain sih ibu ngirim daster? Daster kan tidak ada dalam daftar barang permintaanku.

Padahal nama barang-barang yang diminta untuk dikirim hampir selalu diulang saat ibu telepon ke asrama setiap malam Sabtu. Malam yang selalu ditunggu Fida. Karena malam itu Fida bisa menumpahkan rasa rindu dan segala cerita seru, sedih maupun gembira pada ibu. Wanita mulia berhati lembut yang selalu sabar mendengarkan curhatnya. Curhat tentang segala kejadian di sekolah dan asrama, dari A sampai Z dengan detail. Ibu yang selalu membuat Fida rindu rumah. Rindu ceritanya, rindu kelucuannya saat menceritakan ulah murid-muridnya (ibu Fida kan seorang guru kelas 1 SD negri), rindu masakannya, rindu nasehat dan kata-kata bijaknya.

Rindu … ah, semuanya! Tapi daster ini, telah menguapkan rindu itu menjadi buih kecewa dan malu! Malu yang teramat! Bayangin deh! Ditertawakan seisi kamar. Ditertawakan teman kamar-kamar lain. Belum lagi jadi bahan obrolan hot news penghuni asrama dalam rentang beberapa hari berikutnya. Dari kelas 7 sampai kelas 9. Apalagi kelas 8! Hhhh… Aroma perseteruan yang turun temurun antara kelas 7 dengan kelas 8, dari abad awal sejarah berdirinya asrama sampai kini, semakin memperparah suasana hati Fida. Fida jadi semakin tak nyaman saat berjalan di sepanjang koridor kamar kelas 8. Padahal bangunan asrama kelas 8 adalah jalan terdekat menuju perpustakaan.

Mogok beberapa hari nggak ke perpus? Nggak tahan! Mendingan nggak makan deh dari pada nggak baca buku! Tapi bisik-bisik tentang daster membuat kupingnya menjadi panas. Terlebih kalau ada kakak kelas yang dengan sengaja bergosip ria saat Fida lewat depan kamar mereka. Menggosipkan apalagi kalau bukan tentang daster. Hhh, lagi-lagi daster. Aduh ibu, jadi ingin cepet-cepet curhat nih. Tak sabar rasanya menunggu malam Sabtu tiba. Malam jatah kamar 7-4 untuk bertelepon ria dengan keluarga.

“Bunda, aku pinjem HP nya ya!” Fida menghampiri Bunda Nurul yang tengah duduk manis di kantor asrama. “Mau SMS ibu, boleh kan?” Pinta Fida dengan tatap penuh harap. “Baru juga hari Rabu Fid, ada perlu penting ya?” Bunda Nurul tersenyum lembut. Ditatapnya Fida penuh selidik. Fida mengangguk lesu. Aneh… tumben nih anak, biasanya ceria. “Ada apa sih, kok lesu gitu?” Fida duduk di kursi sebelah Bunda Nurul. Ada keinginan untuk curhat sama beliau. Bunda Nurul kan bunda pendamping kamar 7-4, siapa tahu bisa sedikit mengurangi rasa sedih itu. Tapi… malu ah! Nanti ditertawakan. Masalah sepele seperti ini saja.

Loh… loh… udah tahu sepele kok aku pikirin. Tapi masalahnya, tema obrolan tentang daster itu masih belum reda juga. Bikin pusing. Pokoknya harus bilang sama ibu, kalau aku mau balikin tuh daster! “Ibu telpon aku ya nanti malam, kalau nggak bisa, kasih tahu kapan bisanya.” Begitu bunyi SMS yang tertera di layar HP. Fida menekan tombol send. Dan melesatlah pesan itu ke HP ibu, hanya dalam hitungan beberapa detik. “Assalamualaikum teh.” Terdengar suara lembut ibu dari HP Bunda Nurul. Raut lesu Fida berubah seketika. Ada rona cerah di sana. “Waalaikum salam. Ini ibu ya, kok cepet banget langsung telpon, ibu ada di mana? Kok nomornya lain?” Fida memberondong ibu dengan beberapa pertanyaan tanpa jeda.

“Iya, ini ibu. Ibu masih di sekolah, kebetulan ibu lagi nggak punya pulsa, jadi pakai telpon sekolah. Ada apa teh. Oh iya, kiriman ibu sudah sampe belum?” “Sudah. Ibu yang masukin daster ya?” Fida separuh berbisik, takut terdengar Bunda Nurul yang kini tengah sibuk dengan komputer di hadapannya. “Iya… emang kenapa? Bagus kan? Habis, ibu lihat baju tidur kamu udah jelek-jelek. Malu kan dilihat sama temanteman yang lain? Kebetulan ibu punya sedikit uang, harga daster kan jauh lebih murah.”

“Ah ibu… justru itu masalahnya.” Fida memotong kalimat ibu, nada suaranya mulai tersendat menahan tangis. “Aku…aku jadi malu….” “Memangnya kenapa? Ada yang salah ya sama daster kiriman ibu itu?” “Bukan begitu.” Rengek Fida, “Teman-teman nertawain aku. Malahan hampir seluruh asrama ngomongin aku… .” Fida mulai terisak. Kalimatnya terdengar tak jelas di telinga ibu. “Sst… teh, tenang dong. Bicaranya jangan sambil nangis. Ibu nggak jelas nih. Emangnya kenapa dengan daster itu. Ibu pikir daster itu bagus buat kamu. Kan enak sore-sore pakai daster, santai dan lagi pula praktis dipakai untuk tidur atau untuk sekadar jalan di sekitar asrama.” Ibu coba untuk menenangkan.

Tetapi gagal. Fida malah semakin tak dapat menahan tangisnya. “Emang bagus…tapi teman-teman bilang daster itu baju nenek-nenek. Aku malu bu. Aku malu….” Suara Fida terputus-putus di sela isaknya. “Cup teh… jangan nangis ah. Ya udah, kalo kamu malu nggak usah dipakai. Simpan aja ya. Sabar ya. Maafin ibu kalau begitu.” Hening mengambang di udara untuk beberapa saat. Ibu menghela napas panjang dan menghembuskannya pelan. Berharap bisa mengurangi sesak yang tiba-tiba saja sudah menggunung di dada. Sesak membayangkan teteh, panggilan sayang untuk sulungnya, mengalami beban yang cukup berat di sana.

Ditertawakan dan diolok-olok temantemannya? Hampir oleh seluruh teman-temannya, hanya karena sepotong pakaian bernama daster? Ah, anakku! “Ya udah ya teh. Simpan saja dasternya. Sabar ya, ibu nggak bisa lama-lama.” Belum sempat terucap salam. Ibu tak tahan. Ibu tak ingin Fida tahu, ada yang menetes di kedua sudut matanya. Dengan pelan disusutnya air mata itu dengan ujung jilbabnya. Angin pagi itu berhembus pelan dari celah jendela perpustakaan. Menyentuh lembut ujung jilbab Fida yang masih menekuni kumpulan cerpen pengarang kesayangannya. Namun konsentrasinya pecah tak beraturan.

Wajah-wajah yang dirindukan, sudah 2 kali kunjungan ini tak tampak di hadapannya. Wajah ibu dan ketiga adiknya: Azzam, Miqdad dan si bungsu Zara. Hanya ayah yang berusaha untuk bisa datang pada kunjungan bulan kemarin. Itu pun naik angkutan umum. Lebih irit katanya. Sedangkan untuk kunjungan kali ini ayah hanya menitipkan sedikit uang tambahan jajan dan setoples kacang bawang buatan ibu, pada teman pengajian ayah. Sedih rasanya melihat teman-teman yang lain bercengkrama bersama keluarga masing-masing. Lebih baik bersembunyi di sini, di perpustakaan. Berselancar menjelajahi dunia lain. Dunia yang diciptakan oleh penulis-penulis buku terkenal.

Mengurangi sedikit kesedihan yang berpendar di hati. Untungnya Fida tak pernah bosan untuk membaca dan untungnya pula perpustakaan selalu buka di hari Sabtu dan Minggu. “Sedang apa ya ayah, ibu dan adik-adikku di sana.” Bisik Fida dalam hati, matanya menerawang jauh, melintas kaca jendela dan pilar-pilar tinggi yang berjejer di sepanjang lorong perpustakaan. “Hmmm, pagi-pagi begini biasanya mereka beres-beres rumah. Ayah ngepel, ibu masak makanan yang enak, Azzam dan Miqdad pasti sedang berantem dan ibu akan teriak-teriak melerai. Ade Zara paling ngikutin terus di sisi ibu.” Fida tersenyum sendiri. Bayangan ayah, ibu, dan adik-adiknya menari-nari di pelupuk mata.

Duh rindunya. Pipi Fida membasah. Air mata sudah berguliran di sana. “Fida, kenapa?” Seseorang menyentuh bahunya, “Kamu nangis ya?” “O… eh, Arin…” Tergeragap Fida menjawab. Dilihatnya Arin sudah berdiri di sisinya. “Nggak Rin. “ Dusta Fida, buruburu disekanya air mata itu dengan kedua tangannya. “Jangan bohong, kenapa sih? Karena nggak dijenguk sama orangtua kamu ya?” Tebak Arin. Ditariknya kursi di sebelah Fida, kemudian duduk di sana. “Aku juga nggak dijenguk kok.” “Oh ya? Emang kenapa?” Fida sedikit terhibur dengan kehadiran Arin. Rasa kecewanya pada Arin yang menertawakan daster kiriman ibu sudah jauh-jauh hari dilupakan. “Orangtuaku baru bisa jenguk aku pekan depan.” “Enak doong. Nah aku? Entah kapan mereka datang lagi ke sini. Kunjungan terakhir hampir dua bulan lagi, sekalian penjemputan libur kenaikan kelas.

Padahal aku tuh udah kangen sama mereka. Terutama sama ibu. Apalagi terakhir ibu telpon, kami ngobrol nggak tuntas.” “Eh, kalau kamu mau, ikut aja pulang ke Bekasi bareng aku.” Bola mata Fida membesar. Ada harapan berpendar di sana. Saat itu juga hatinya bersorak girang. “Ah yang bener? Emang boleh ya? Kapan kamu pulang? Sama siapa?” “Iya, beneran. Pekan depan bapak mau jemput aku. Tanteku nikah. Jadi aku boleh minta izin pulang kan?” “Terus aku gimana, kalo ditanya Bunda Etin kenapa aku pulang, alasannya apa dong?” Fida mulai ragu kembali. “Bilang aja kangen berat, sudah dua kunjungan nggak ditengok.

Lagian kamu belum pernah ambil jatah pesiar kan? Pasti Bunda Etin ngizinin deh.” Arin meyakinkan Fida. “Eh, iya juga ya. Asyik. Alhamdulillah. Benar ya Rin, pekan depan aku ikut kamu. Nanti aku mau bikin kejutan buat ayah ibuku. Aku turun di tol timur aja ya, habis itu naik angkot ke rumah. Siiip deh!” Fida bersorak girang. Kegembiraannya melegakan hati Arin. Arin diam-diam ikut sedih melihat Fida menderita. Apalagi sejak kejadian dua pekan lalu, saat Fida mendapat kiriman daster itu. Arin tahu bagaimana perasaan Fida. Arin juga menyesal sudah ikut menertawakan Fida, teman dekatnya waktu di sekolah dasar dahulu.

“Ya… aku sudah siap Rin!” Teriak Fida dari balik pintu lemarinya. Tangannya menyambar bungkusan plastik berisi daster yang dikirim ibu dua minggu yang lalu. “Ups, hampir kelupaan, daster ini kan mau kukembalikan. Menuh-menuhin lemari aja. “ “Cepatan sedikit Fid. Bapak sudah selesai ngurus surat izinnya tuh. Punya kamu juga sudah diurusin.” Arin menggamit tangan Fida tak sabar. “Eh, bawa apaan tuh?” tunjuk Arin ke arah kantong plastik dalam genggaman Fida. “Hehehe…daster yang kemarin kamu ketawain. Mau aku bawa pulang aja.” Enteng Fida menjawab. Langkahnya ringan dan gesit. Ingin segera sampai di Bekasi.

Kejutan yang menyenangkan buat semua. Pasti ayah dan ibu kaget melihatnya ada di depan pintu dengan tiba-tiba. Hmm… Fida melangkah pasti. Senyuman tak lepas mengembang di bibirnya. Senyum yang terus mengembang sampai tiba di pintu tol dan berpisah dengan Arin. “Terima kasih ya Rin. Terima kasih ya pak. Hati-hati di jalan. Assalamualaikum.” Fida menutup pintu mobil. Melambaikan tangan pada Arin dengan riang. Kemudian berjalan menuju halte di seberang. Sebuah angkot bernomor 19 berhenti di depannya. Fida segera saja melangkah masuk ke dalamnya. Hatinya bersenandung riang di antara penumpang yang sudah penuh sesak.

Senandung merdu yang melagukan nyanyian rindu pada ayah dan ibu, juga adik-adiknya. Mata Fida menelusuri deretan ruko yang berdiri kokoh di tepi jalan. Jalan yang selalu dilewatinya jika hendak pergi ke sekolah dahulu. Di ujung ruko sana ada gang. Gang menuju rumah Fida. Fida akan turun di sana. Hatinya semakin riang. Matanya bergerak-gerak meneliti sepanjang ruko. Hmm… siapa tahu ibu atau adik-adik ada di salah satu toko itu. Ups, hey…tuh… benar kan? Itu, sosok perempuan berjilbab kaos merah marun tua, itu kan ibu. Di sebelahnya? Tak salah lagi! Gadis kecil berjilbab lucu itu kan de Zara? Tangan mungilnya tak lepas dari rok ibu.

Ta…tapi, kenapa ibu membawa nampan besar di kepalanya ya? Dan… ibu meneriakkan sesuatu nampaknya. Terlihat dari gerak bibirnya dari kejauhan. Seolah sedang menjajakan sesuatu. Fida semakin penasaran. Mobil melaju pelan melewati kedua sosok yang teramat dikenalnya itu. Seketika Fida terpana. Ibu meneriakkan kata-kata ”Tempe… tempe … “ “Ibu… ibu berjualan tempe?” Desisnya pelan. Teramat pelan. Tak terdengar malah. “Sejak kapan? Kenapa? Bukankah ibu sudah punya gaji dari hasil mengajar? Apakah usaha ayah sedang ada masalah, sampe ibu harus berjualan keliling seperti itu? Ya Allah.” Berbagai pertanyaan berkecamuk di kepala Fida.

Membuatnya ingin segera tiba di rumah untuk mendapatkan jawaban. “Tempe… tempe…” Suara ibu terdengar semakin jelas. Fida semakin terpaku. Ibu… penampilan ibu sangat jauh berbeda kini. Butiran keringat menempel di kening dan selasela jilbabnya. Ibu kelihatan kurusan sekarang. Pantas saja kunjungan mereka ke asrama terputus. Pantas saja obrolan di telepon tak bisa selama dulu. Pantas saja ibu hanya bisa membelikannya sepotong daster ketimbang baju tidur lucu seperti punya teman-temannya yang lain. Ah, ibu… jerit Fida dalam hati. Tak sadar tangannya mendekap ransel berisi daster pemberian ibu yang akan dikembalikannya.

Maafkan teteh bu! Senja di kaki bukit Desa Tambak Mekar. Desiran anginnya yang sejuk mengiringi langkah Fida yang berjalan dengan anggun. Tubuh bongsornya berbalut daster bernuansa cerah, berpadu jilbab senada, menambah kecantikan yang terpancar dari wajah riangnya. Tak peduli beberapa teman yang melihatnya berjalan di lorong asrama terkikik geli. Tak peduli suara-suara sumbang kakak kelas yang meledeknya. Fida tetap melangkah riang. Menuju papan tempat majalah dinding terpasang. Selembar kertas terselip di tangannya. Ditempelnya kertas itu di sana. Dibacanya sekali lagi puisi hasil tulisan tangannya itu. Tulisan yang terukir indah dari lubuk hatinya yang paling dalam. Seulas senyum mengembang di bibirnya.

Sumber:

Judul: Aku Bangga Menjadi Guru

Penulis: Titin Supriatin

Penerbit: Lentera Ilmu Cendekia

Bekasi, 10 April 2010

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *