Virus “Alamat Palsu” (Aku Bangga Menjadi Guru)

Ke mana ke mana di mana…

Kuharus mencari ke mana…

Kekasih tercinta tak tahu dimana

Lama tak datang ke rumah…

Tiga orang murid kecilku bergoyang sambil menyanyikan syair lagu tadi. Bernyanyi dan bergoyang tepat di depan meja guru yang aku duduki dengan lesu pada jam istirahat pertama itu. Maksud mereka sangat baik dan sungguh mengharukan, menghibur Bu Titin yang sedang lesu karena sariawan.

Bahkan kalau boleh aku bagikan pada kalian apa yang diucapkan salah seorang di antara mereka yang berkata seperti ini,

“Inilah dia persembahan lagu untuk guru kami tecinta…” Lalu dengan gaya yang kocak mereka pun kompak menyanyikan lagi “Alamat Palsu” nya Ayu Ting Ting itu.

Loh…loh… Kok Bu Tintin tahu dan hafal sih lagu itu? Lah ya jelas saja! Karena setiap hari selama sepekan semenjak lagu itu populer, hampir semua anak menyanyikan lagu itu di kelasku. Aku sampai, maaf, bosan mendengarnya. Bukan hanya karena ditilik dari segi syair, tapi lagu itu tidak ada puitis-puitisnya.

Tapi dari sisi isi materi lagu pun, tidaklah pantas dinyanyikan oleh anak-anak usia SD. Tapi apa mau dikata? Aku hanya guru yang separuh waktu saja mendampingi mereka. Sedangkan sebagian besar waktu lainnya mereka lewatkan dan habiskan dirumah.

Rasa penasaran mendorongku untuk bertanya pada murid-murid kecilku, lagu apa itu, siapa yang menyanyikan dan dimana mereka mendengarnya? Jawaban mereka tidak cukup membuatku puas. Untung beberapa guru setempat mebahasnya di kantor. Bahkan ada salah seorang diantara mereka mengatakan bahwa lagu itu sudah di download hampir oleh 2 juta orang.

Wow! Luar biasa. Akhirnya aku terdorong juga untuk ikut “ngintip” si alamat palsu ini di Youtube (Karena aku dan keluargaku sudah sejak lama mencanangkan program no TV watch). Oh ini rupanya virus bernama “Alamat Palsu” itu! Memang dahsyat goyangan penarinya. Dahsyat suara penyanyinya.

Dahsyat juga pengaruhnya pada jiwa dan perilaku sang penonton tayangan itu, yang sebagiannya adalah anak dan muridku.

Sebetulnya fenomena seperti ini bukan sekali dua terjadi di sekolah tempatku mengajar. Berita hangat “tak pantas”, gosip, trend mode atau lagu yang seharusnya belum boleh dikonsumsi oleh anak-anak sudah seperti aliran air yang mengalir begitu saja. Dimana ada trend baru, maka anak-anak pun akan kena imbas informasinya, bahkan ikut-ikutan arus di dalamnya.

Jangankan mereka yang masih polos dan belum sepenuhnya paham apa yang mereka tonton, gurupun ternyata tak “kebal” terhadap virus dunia infotainment ini. Virus Ustad “Solmed” (yang aku pikir hanya arti ustad yang hangat dan bersahabat, ternyata kependekan dari Soleh Memed, maklum kurang gaul, red) dan virus “Alhamdulillah, sesuatu banget” nya Syahrini, adalah dua virus yang teranyar lain yang aku tahu sedang mewabah saat ini.

Apa yang harus dan bisa kita lakukan untuk membentengi diri dan anak kita dari dahsyatnya virus infotainment ini? Gencarnya dunia hiburan di media dan kebutuhan kita akan informasi adalah dua hal yang kadang dilematis dan beririsan kepentingan.

Di satu sisi kita tak ingin ikut terbawa arus “orang kebanyakan”, tapi satu sisi yang lain anak-anak kita sudah “terpolusi” virus yang sepele namun membahayakan tersebut, hingga mau tak mau kita harus tahu seperti apa sih dan bagaimana kita harus meluruskannya.

Ada beberapa kiat yang mungkin bisa dijadikan cara untuk mencegah “virus” macam “alamat palsu” nya Ayu Ting Ting itu. Pertama, dampingi mereka selalu. Ajak mereka tonton. Mengapa mereka suka dan menirunya. Apa kebaikan dari hal tersebut dan apa keburukannya. Giring opini mereka bahwa itu belum cocok untuk mereka nanyikan atau mereka tiru.

Kedua, ajaklah mereka untuk mendengarkan cerita, kisah atau dongeng yang sarat dengan kandungan nilai positif. Gunakan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Lebih bagus lagi jika kita bisa menirukan gaya pendongeng profesional. Menggunakan suara dan mimik yang sesuai dengan tokoh.

Pasti seru dan asik! Ini bisa dijadikan tandingan untuk tayangan-tayangan yang tidak sehat tadi.

Ketiga, ajarkan mereka lagu anak-anak dan lagu-lagu yang Islami. Kalau mau jujur, aku sendiri tak mengikuti perkembangan lagu anak terend terkini. Karena lagu anak kalah jauh jumlahnya dari lagu remaja dan orang dewasa. Beruntungnya aku punya stok gudang lagu anak yang masih aku hafal sampai setua ini.

Kalaupun sudah lupa, kita tinggal bertanya pada “Google” pasti berderet lagu anak-anak bisa kita pelajari. Apalagi lagu anak zaman dahulu itu syairnya bagus-bagus dan sesuai sekali dengan kebutuhan mereka.

Keempat, adakalanya kita harus ‘lebay’. Lebay (berlebihan) mengkampanyekan sesuatu hal kebaikan, walaupun kebaikan itu kesannya “jadul” banget. Contoh sederhana, anak-anak biasanya trend makan fast food (padahal nilai gizinya mendekati zero), kita bisa dengan hebohnya bertanya,

“Uhm… siapa yang suka makan serabi? atau kue cucur? Wah… bu guru senang banget loh kue serabi dan cucur. Enaaak deh rasanya…” Apalgi gaya kampanye kita meyakinkan, pasti anak-anak akan penasaran untuk mengikuti kita. Bukankah kita adalah panutan mereka. Apa kata bu guru atau pak guru pasti akan mereka ikuti.

Kelima, sempatkan selalu berkomunikasi dengan orangtuan mereka. Buat sebuah jembatan komunikasi dengan mereka, agar visi dan misi antara guru dan orangtua tidak jauh berbeda, sehingga anak pun punya pegangan yang kuat dalam mengadopsi dan menindaklanjuti sebuah trend baru yang sedang berkembang.

Insya Allah, jika sekolah (guru) dan orang tua mempunyai kesamaan visi dan misi, sebesar dan sehebat apapun virus “globalisasi” akan bisa dibentengi penyebarannya oleh anak-anak kita. Alhamdulillah…. sesuatu banget kan? Wallahua’lam bish shawab.

Sumber:

Judul: Aku Bangga Menjadi Guru

Penulis: Titin Supriatin

Penerbit: Lentera Ilmu Cendekia

Bekasi 25 September 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *