Waktu dan Kreativitas (Aku Bangga Menjadi Guru)

Bermula dari ketidaksengajaan. Sabtu siang itu, usai rapat pekanan di sekolah, aku hunting buku ke Gramedia Metropolitan Mall. Sebetulnya tidak ada niat untuk mencari buku-buku tertentu. Ya seketemunya saja deh, buku apa yang akan ‘berjodoh’ denganku hari itu. Sebuah buku bercover gadis berkepala plontos sedang bertangisan dengan ayahnya menarik minat beliku. Surat Kecil Untuk Tuhan, begitu judul yang tertulis. Sudah lama juga aku penasaran dengan buku itu.

Buku yang sampai detik aku membelinya, sudah dicetak belasan kali dalam satu tahun. Tidak puas dengan cuma sebuah buku, mataku kemudian sibuk mencari mangsa berikutnya. Ingatanku melayang pada acara workshop tentang pembuatan media belajar menggunakan program macroflash yang aku ikuti beberapa hari yang lalu. Aku tertarik untuk lebih dalam mempelajarinya secara otodidak. Sayangnya aku tidak bisa mengikuti workshop kemarin dengan tuntas.

Di samping waktunya yang singkat dan juga karena keterbatasan pengetahuanku tentang dunia software yang satu ini. Aku pikir, mungkin aku bisa mempelajarinya sendiri lewat buku. Rasa penasaran segera mendorong langkahku ke arah rak berlabel ‘komputer’, sambil mataku terus memilah dan mencari, mana buku yang aku butuhkan. Ahaaa, ini dia! Akhirnya aku menemukan sebuah buku tebal dengan judul sangat menggoda, yaitu “Macroflash 5.6”. Segera saja aku ambil buku itu dari rak-rak yang berjejer rapi.

Tapi eit… tunggu dulu! Aku melihat ada sebuah judul yang lebih menarik lagi di sebelahnya, yaitu “Membuat Comic Strip Instan Untuk Hobi dan Profesional” Wah…! Dengan ‘lahap’ kubuka dan kubaca beberapa hal penting di dalamnya. Subhanallah… ini dia yang aku butuhkan: membuat komik untuk presentasi, cocok sekali dengan hobiku bercerita dan mendongeng pada anakanak dalam proses kegiatan belajar mengajar di kelas. Pasti kegiatan belajar kami akan lebih asik dan menarik dengan bantuan sebuah media yang menunjang. Singkat cerita, penuh antusias aku baca buku seharga Rp. 36.900,- itu.

Aku tidak membutuhkan waktu lama untuk membaca lebih detail. Kupikir akan lebih baik jika langsung kupraktikkan saja apa yang ditutorkan si penulis dalam bukunya, lalu…Let’s see the next, apa yang terjadi? Jawaban singkatnya cuma dua kata saja: Subhanallah dan Astaghfirullah. Subhanallah nya, karena aku merasa gembira mendapatkan sebuah ilmu baru tentang pembuatan sebuah media belajar, yang jujur saja, masih belum banyak orang yang memanfaatkannya dalam kegiatan belajar mengajar.

Padahal jika mau, sudah demikian berkembangnya dunia informasi dan teknologi yang bisa kita manfaatkan untuk kemajuan kualitas pendidikan anak bangsa. Cara pembuatannya pun saat dipraktikan begitu mudah dan menyenangkan. Apalagi buat aku yang ngak ada basic keilmuan komputer. Hanya bermodal tekad, nekad, dan keinginan kuat untuk memberikan yang terbaik dalam dunia pendidikan anak. Astaghfirullah nya, aku jadi lupa diri dan waktu. Aku begitu asik dengan mainan baru itu. Aku bisa berjam-jam ber’khalwat’ dengan laptop kesayanganku. Meng’klak-klik’ mouse.

Mengkhayal konsep cerita (kebetulan aku seorang penghayal ulung, jadi pas pisan dan ada penyalurannya). Browsing. Download gambar dan lagu. Pokoknya seru banget. Aku tidak peduli rasa penat letih setelah seharian direcoki murid-murid kecilku. Aku tidak merasakan capenya digelayuti dua balitaku kanan kiri yang berebut duduk di pangkuanku saat asik berkhayal di depan komputer. Karena kemudian, aku bisa mengakhiri kerjaku semalaman suntuk dengan kata alhamdulillah. Dada berdebar saking girangnya dan rasa puas saat bisa menghasilkan sebuah karya yang baru; komik bergambar sesuai dengan tema belajar yang akan aku sampaikan dalam kegiatan belajar dan mengajar di kelasku.

Sungguh menyenangkan! Terbayang ekspresi murid-murid kecilku saat aku bercerita dengan bantuan cerita bergambar yang kubuat sendiri. Dan saat itulah sebetulnya yang aku tunggu: binar bahagia yang terpancar dari wajahwajah mereka. Dari pengalaman ini, ada sebuah hal yang ingin kujadikan catatan penting bagi diriku sendiri, yaitu tentang pentingnya ‘waktu’ dan ‘kreativitas’ bagi seorang pendidik dan pengajar sepertiku. Bagaimana kita harus bisa memanfaatkan waktu untuk terus berkarya dan berkreativitas positif. Rasanya waktu tak pernah cukup andai kita bisa mengisinya dengan hal-hal baru yang bermanfaat. Selalu ada tantangan dan rasa penasaran untuk terus membuat karya.

Apalagi aku sadar betul, bahwa waktu tak pernah berhenti barang sejenak untuk rehat. Dia terus bergulir dan berlari. Menerjang detik, menit, jam, hari, bulan dan tahun. Tugas kita adalah mengisinya dengan berbagai kreativitas yang produktif. Karya yang indah walau sederhana, bernilai positif dan terpenting bermanfaat untuk orang-orang di sekitar kita. Karena kehidupan adalah pemisalan sebuah kegiatan melukis di atas kertas.

Kertas kehidupan kita mirip sejenis kertas tissue yang bergulung-gulung. Panjang dan bahkan kadang kita tak tahu di mana ujungnya. Begitu pula waktu dan kreatifitas dalam kehidupan. Kertas itu adalah waktu dan kreativitas adalah tintanya. Apa jadinya, andai Allah tibatiba menghentikan waktu kehidupan kita, sementara kertas kehidupan itu belum kita isi atau hanya sedikit yang sudah kita lukisi dengan kreatifitas kita? Jawaban apa yang akan kita beri pada hari di mana pertanyaan itu akan muncul : “Kau gunakan untuk apa waktumu selama hidup”. Wallahua’lam bish shawab.

Sumber:

Judul: Aku Bangga Menjadi Guru

Penulis: Titin Supriatin

Penerbit: Lentera Ilmu Cendekia

Bekasi, 20 Oktober 2011

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *