Sistem Pertanian Organik

Ruang Lingkup

Sistem Pertanian Organik –  Standar ini menetapkan sistem pertanian organik pada produk berikut :

  1. Tanaman segar, produk tanaman dan produk olahannya
  2. Ternak, produk ternak dan produk olahannya
  3. Peternakan lebah dan olahannya
  4. Produk khusus (jamur) dan produk olahannya
  5. Produk yang tumbuh liar dan produk olahannya
  6. Input produksi (pakan, pupuk, pestisida, dan benih)

Standar ini menetapkan ketentuan tentang produksi, penanganan, pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, pengemasan dan pelabelan produk sebagaimana dimaksud pada pasal 1.

Standar ini tidak berlaku untuk bahan dan / atau produk yang dihasilkan dari produk rekayasa genetika/organisme hasil rekayasa genetika/modifikasi genetika.

Definisi

Untuk keperluan dokumen ini, istilah dan definisi berikut digunakan: 

1. akreditasi

rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh lembaga akreditasi nasional, yang menyatakan bahwa suatu lembaga/laboratorium telah memenuhi persyaratan untuk melakukan kegiatan sertifikasi tertentu.

2 audit

penilaian yang independen secara sistematis maupun fungsionil untuk menetapkan apakah suatu kegiatan dan hasilnya sesuai dengan tujuan yang telah direncanakan.

3 bahan

segala bahan, termasuk bahan tambahan pangan, yang digunakan dalam pembuatan atau penyiapan pangan dan terkandung dalam produk akhir walaupun mungkin dalam bentuk yang sudah berubah.

4 bahan dilarang

bahan yang tidak diperbolehkan digunakan.

5 bahan yang dibatasi

bahan yang boleh digunakan apabila bahan yang diperbolehkan tidak bisa mencukupi atau memadai. ketersediaannya

6 bahan yang diperbolehkan

bahan yang dianjurkan untuk dipergunakan.

7 bahan penolong

bahan, tidak termasuk peralatan, yang lazimnya tidak dikonsumsi sebagai pangan, digunakan dalam proses pengaolahan pangan untuk memenuhi tujuan teknologi tertentu dan tidak meninggalkan residu pada produk akhir, tetapi apabila tidak mungkin dihindari, residu dan atau turunannya dalam produk akhir tidak menimbulkan resiko terhadap kesehatan serta tidak mempunyai fungsi teknologi.

8 bahan tambahan pangan

bahan yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan.

9 input produksi

berupa benih, pupuk, pestisida, bahan pembenah tanah, bahan tambahan pangan dan bahan lainnya yang dibutuhkan dalam produksi pertanian organik.

10 inspeksi

pemeriksaan pangan atau sistem pengawasan pangan, bahan baku, pengolahan, dan distribusinya, termasuk pengujian dalam proses maupun produk akhirnya untuk memverifikasi bahwa pangan atau sistem tersebut sesuai dengan persyaratan.

Untuk pangan organik, inspeksi termasuk pemeriksaan sistem produksi dan pengolahannya.

11 Komite Akreditasi Nasional (KAN)

lembaga akreditasi nasional yang mempunyai tugas untuk memberikan akreditasi kepada Lembaga Sertifikasi Organik dan laboratorium penguji/kalibrasi.

12 konversi (transisi)

proses perubahan suatu sistem pertanian dari pertanian konvensional menjadi pertanian organik.

13 Lembaga Sertifikasi Organik (LSO)

lembaga yang bertanggung jawab untuk melakukan sertifikasi/verifikasi bahwa produk yang dijual atau dilabel sebagai “organik” telah diproduksi, diolah, disiapkan, ditangani, dan diimpor sesuai dengan Standar Nasional Indonesia ini.

14 obat hewan

obat yang khusu2s digunakan untuk ternak seperti hewan penghasil susu dan daging, unggas, ikan atau lebah, yang tujuan pemakaiannya untuk menetapkan diagnosa, mencegah, menyembuhkan dan memberantas penyakit, memacu perbaikan mutu dan produksi hasil hewan serta memperbaiki reproduksi hewan.

15 operator

orang yang memproduksi, menyiapkan atau mengimpor, produk organik (seperti diuraikan dalam subpasal 1.1 untuk tujuan pemasaran, atau mereka yang memasarkan produk tersebut).

16 organik

istilah pelabelan yang menyatakan bahwa suatu produk telah diproduksi sesuai dengan standar pertanian organik dan disertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik yang telah diakreditasi oleh KAN.

17 Produk Rekayasa Genetik (PRG)/organisme hasil rekayasa/modifikasi genetika (GMO)

organisme hidup, bagian-bagiannya dan/atau hasil olahannya yang mempunyai susunan genetik baru dari hasil penerapan bioteknologi modern.

Catatan Teknik rekayasa /modifikasi genetika termasuk rekombinasi DNA, fusi sel, injeksi mikro dan makro, penghilangan dan penggandaan gen.

Organisme hasil rekayasa genetika tidak termasuk organisme yang dihasilkan dari teknik-teknik seperti konjugasi, enkapsulasi, transduksi dan hibridisasi.


18 Otoritas Kompeten Pangan Organik (OKPO)

lembaga yang kompeten dalam bidang organik yang ditunjuk berdasarkan Keputusan
Menteri Pertanian Nomor 380/Kpts/OT.130/10/2005

19 pangan

segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perkebunan, kehutanan, perikanan, peternakan, perairan, dan air, baik yang diolah maupun yang tidak diolah yang diperuntukkan sebagai makanan atau minum bagi konsumsi manusia.

Termasuk bahan tambahan pangan, bahan baku pangan, dan bahan lainnya yang digunakan dalam proses penyiapan, pengolahan dan/atau pembuatan makanan atau minuman

20 pangan organik

pangan yang berasal dari suatu lahan pertanian organik yang menerapkan praktek-praktek pengelolaan yang bertujuan untuk memelihara ekosistem dalam mencapai produktivitas yang berkelanjutan, dan melakukan pengendalian gulma, hama dan penyakit, melalui berbagai cara seperti daur ulang sisa-sisa tumbuhan dan ternak, seleksi dan pergiliran tanaman, pengelolaan air, pengolahan lahan dan penanaman serta penggunaan bahan hayati.

Budidaya ternak dipenuhi melalui kombinasi antara penyediaan pakan yang ditumbuhkan secara organik yang berkualitas baik, pengaturan kepadatan populasi ternak, sistem budidaya ternak yang sesuai dengan tuntutan kebiasaan hidupnya, serta cara pengelolaan ternak yang baik yang dapat mengurangi stress dan berupaya mendorong kesejahteraan serta kesehatan ternak, mencegah penyakit dan menghindari penggunaan obat hewan kelompok sediaan farmasetika (termasuk antibiotika).

21 pangan olahan organik

Makanan atau minuman yang berasal dari pangan segar organik hasil proses dengan cara atau metode tertentu, dengan atau tanpa bahan tambahan yang diizinkan.

22 pelabelan

setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya, atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada, atau merupakan bagian kemasan pangan.

23 penyiapan

kegiatan pemotongan/panen, pengolahan, pengawetan dan pengemasan produk pertanian dan juga perubahan atau penyesuaian dalam pelabelan berkaitan dengan penyajian atau pemberitahuan cara produksi pangan organik,

24 pertanian konvensional

sistem pertanian yang masih menggunakan pupuk dan/atau pestisida sintesis.

25 produk organik

suatu produk yang dihasilkan sesuai dengan standar sistem pertanian organik termasuk bahan baku pangan olahan organik, bahan pendukung organik, tanaman dan produk segar tanaman, ternak dan produk peternakan, produk olahan tanaman, dan produk olahan ternak (termasuk non pangan dan input produksi).

26 produk pertanian/produk asal pertanian

segala produk atau komoditas, segar atau olahan, yang dipasarkan untuk konsumsi manusia (tidak termasuk air, garam dan bahan tambahan) atau pakan hewan.

27 produk untuk perlindungan tanaman dan ternak

segala bahan yang ditujukan untuk mencegah, memusnahkan, menarik, menolak, atau mengendalikan hama atau penyakit termasuk tumbuhan atau hewan serta organisme pengganggu lainnya yang tidak diinginkan selama proses produksi, penyimpanan, pengangkutan, pendistribusian dan pengolahan pangan, komoditas pertanian atau pakan
ternak.

28 produk yang tumbuh liar

produk yang tumbuh tanpa atau dengan sedikit pengaruh dari operator dalam pengumpulan produk. Campur tangan manusia hanya pada saat pemanenan (pengumpulan) produk atau tindakan untuk melindungi potensi pertumbuhan alami tanaman (perlindungan dari erosi, dan lain-lain).

29 produksi

kegiatan penyediaan produk pertanian baik pangan organik segar maupun pangan organik olahan, termasuk pengolahan, pengemasan dan pelabelan.

30 produksi paralel

setiap produksi dimana unit yang sama menumbuhkan, memelihara, menangani atau memproses produk yang sama dengan status keorganikan yang berbeda (organik, konversi dan/atau non-organik).

31 produksi terpisah

setiap produksi dimana unit yang sama menumbuhkan, memelihara, menangani atau memproses produk yang berbeda atau dapat dibedakan dengan status keorganikan yang berbeda (organik, konversi dan/atau non-organik).

32 sertifikasi

prosedur di mana lembaga sertifikasi organik yang telah diakreditasi oleh KAN memberikanjaminan tertulis atau yang setara, bahwa pangan atau sistem pengawasan pangan sesuai dengan persyaratan.

Apabila diperlukan sertifikasi pangan juga dapat berdasarkan suatu rangkaian kegiatan inspeksi yang mencakup inspeksi terus menerus, audit sistem jaminan mutu dan pemeriksaan produk akhirnya.

33 sistem pertanian organik

sistem manajemen produksi yang holistik untuk meningkatkan dan mengembangkan kesehatan agroekosistem, termasuk keragaman hayati, siklus biologi, dan aktivitas biologi tanah.

Pertanian organik menekankan penerapan praktek-praktek manajemen yang lebih mengutamakan penggunaan input dari limbah kegiatan budidaya di lahan, dengan mempertimbangkan daya adaptasi terhadap keadaan/kondisi setempat.

Jika memungkinkan hal tersebut dapat dicapai dengan penggunaan budaya, metoda biologi dan mekanik, yang
tidak menggunakan bahan sintesis untuk memenuhi kebutuhan khusus dalam system.

34 tanaman

tanaman yang terdiri dari akar, batang, dan daun yang dibudidayakan pada media tanah (soil based management)

35 ternak

hewan peliharaan yang produknya diperuntukkan sebagai penghasil pertanian, bahan baku industri, jasa, dan atau hasil ikutannya yang terkait dengan pertanian

Biblografi

UU No 2 tahun 1961 tentang Pengeluaran dan Pemasukan Tanaman dan Bibit Tanaman Permenkes 722/Menkes/Per/IX/88 tentang Bahan Tambahan Makanan

Peraturan Menteri Pertanian No. 64/Permentan/OT.140/5/2013 tentang Sistem Pertanian Organik

Peraturan Kepala BPOM Nomor: HK.00.06.52.0100b tanggal 7 Januari 2008 tentang Pengawasan Pangan Olahan Organik

Sumber:

Judul: Sistem Pertanian Organik

Penulis: Badan Standarisasi Nasional (BSN) www.bsn.go.id

Penerbit: Badan Standarisasi Nasional (BSN) Jakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *