Sejarah Kota Bandung dari “Bergdessa” Menjadi “Heurin Ku Tantung”

A.Pendahuluan

Bandung merupakan sebuah kota yang mempunyai alur dan perjalanan sejarah yang sangat panjang, sehingga tidak setiap peristiwa sejarah meninggalkan kelengkapan data.

Apabila perjalanan sejarah Bandung diuraikan, maka secara garis besar penulisannya dapat dipilah menjadi dua bagian, yaitu bagian yang diusung oleh Orang Belanda atau zaman kolonial dan yang kedua bagian yang diusung oleh orang pribumi yaitu waktu terjadinya pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Krapyak (Dayeuhkolot) ke dekat jalan besar di tepi Cikapundung (Kota Bandung sekarang).

Peristiwa pemindahan ibu kota itu secara yuridis formal diresmikan melalui besluit (surat keputusan) gubernur jenderal tanggal 25 September 1810.

Dalam judul tulisan ini terkandung dua masalah yang perlu terlebih dahulu diidentifikasi, yaitu yang berkaitan dengan aspek tema (sejarah kota) dan aspek spasial (Bandung). Sejarah kota mengacu pada pemahaman rekonstruksi tertulis mengenai masa lalu sebuah kota, dalam hal ini Kota Bandung.

Secara substansi, sejarah kota sering disebut sebagaisejarah yang menyeluruh (total history). Kota dalam pengertian “proses menjadi”, yakni kota mulai dari pengertian yang sangat sederhana hingga pengertian dan cakupan yang makin kompleks.

Bandung merupakan sebuah wilayah geografis yang semula berstatus sebagai tempat pemukiman, selanjutnya berkembang menjadi sebuah “kota”, kemudian berstatus
sebagai ibu kota Kabupaten Bandung (1810), ibu kota Keresidenan Priangan (1864), dan menjadi sebuah
gemeente (1906).

Dari sisi teoretis, pengungkapan sejarah Kota Bandung ini akan sangat bermanfaat bagi pemahaman sejarah yang makin luas, karena memuat uraian sejarah lokal yang relatif utuh.

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan metode sejarah yang pengerjaannya meliputi empat tahapan, yaitu heuristik (mencari dan mengumpulkan sumber), kritik, interpretasi, dan historiografi. Pada tahapan heuristik, dilakukan upaya pencarian sumber di berbagai perpustakaan.

Secara kategori, sumber-sumber yang diperoleh itu ada yang bersifat primer, seperti arsip, dokumen resmi, dan sumber-sumber lain yang sezaman dengan periode penulisan;

Ada pula yang bersifat sekunder, yaitu sumbersumber yang dibuat tidak sezaman dengan periode yang dibahas. Sumbersumber tersebut terdiri atas sumber tradisional, sumber kolonial, dan sumber modern.

Terhadap sumber-sumber tersebut dilakukan kritik, baik secara ekstern (menilai otentisitas materialnya) maupun secara intern (menilai kredibilitas isinya). Selanjutnya, terhadap sumber yang sudah terseleksi itu dilakukan interpretasi, sehingga diperoleh fakta dan maknanya serta hubungan satu sama lainnya.

Interpretasi didasarkan pada prinsip-prinsip Ilmu Sejarah dan disesuaikan dengan tujuan penulisan. Sebagai tahapan terakhir dilakukan penulisan (historiografi).

B. Hasil dan Bahasan

Kota Bandung adalah kota yang berada di wilayah Jawa Barat dan merupakan Ibu kota Provinsi Jawa Barat, terletak pada 107` Bujur Timur dan 6`55 Lintang Selatan.

Kota Bandung sangat strategis dilihat dari berbagai aspek, seperti komunikasi, perekonomian maupun keamanan, hal tersebut karena Kota Bandung terletak pada pertemuan poros antara jalan raya barat-timur yang memudahkan hubungan dengan Jakarta sebagai Ibu kota Negara.

Dilihat dari topografisnya Kota Bandung terletak pada ketinggian 768 meter di atas permukaan air laut, titik tertinggi di daerah utara dengan ketinggian 1.050 meter dan terendah di sebelah selatan dengan ketinggian 675 meter di atas permukaan air laut.

Kontur tanah wilayah Kota Bandung dari bagian selatan hingga batas jalan kereta api relatif datar, sedangkan dari batas jalan kereta api ke bagian utara relatif menanjak dan berbukit, hingga memberikan kesan panorama yang indah.

1. Asal Usul Kata Bandung

Masih banyak orang yang bertanya berasal dari kata apa Bandung itu? Banyak versi yang dikemukakan sesuai dengan pandangannya sendirisendiri. Dalam Kamoes Soenda (1948: 28) dikatakan bahwa pengertian kata Bandoeng artinya banding;

Ngabandoeng artinya ngarendeng (berdampingan); bandoengan artinya parahoe doea drendengkeun make sasag (dua perahu yang berdampingan disatukan dengan mepergunakan saasag – bambu yang dianyam); ngabandoengan artinya ngadengkeun nu keur matja atawa nu keur ngomong (artinya menyimak orang yang sedang membaca atau yang sedang berbicara).

2. Bandung dalam Alur Sejarah

There are a few odd-shaped pieces to this historical jigsaw puzzles, and much is missing or loss” (Richard & Shella Bennet).

Pada tahun 1641, seorang Mardijker bernama Yulian de Silva, melaporkan yang tertuang dalam Dagregister „catatan harian‟, ia menyatakan : ”Aen een negorij
genaemt Bandong, bestaende uijt 25 ‘a 30 huysen
..” yang berarti “Ada sebuah negeri dinamakan Bandong yang terdiri dari 25 sampai 30 rumah…”.

Apabila dari satu rumah terdiri atas 4 orang anggota keluarga, maka dari 25 sampai 30 rumah tersebut diperkirakan penduduk di tempat itu berjumlah seratus dua puluhan jiwa dan diduga semuanya adalah orang Sunda. Itulah penduduk yang menempati „kota Bandung‟ sebagai cikal bakal Kota Bandung dewasa ini.

Dalam perjalanan dan perkembangan kota, Bandung pernah diisolasi oleh pemerintah Belanda yang tertuang dalam Surat Perintah Gubernur Jenderal GA. Baron van der Capellen tanggal 9 Januari 1821 (Statsblad No. 6/1821) yang menyatakan bahwa wilayah Karesidenan Priangan tertutup bagi semua orang Eropa dan Cina.

Meskipun ada isolasi dari pemerintah Belanda, pada waktu itu „kota‟ Bandung di bawah pemerintahan Bupati Wiranatakusumah IV (1846- 1874) banyak mengalami kemajuan, sehingga Pemerintah Belanda melalui surat perintah yang disampaikan oleh Residen Priangan Van Steinment tertuang dalam lembaran berita “Java Bode” tanggal 11 Agustus 1852 membuka isolasi bagi Karesidenan Priangan.

3. Perkembangan Kota Bandung dari Masa ke Masa

Kota Bandung, pada pertengahan abad ke-19 masih merupakan „desa‟yang sunyi sepi dikenal dengan sebutan een kleine berg dessa (desa pegunungan yang mungil). Desa yang kecil ini asal muasalnya merupakan bekas danau, maka di atas area ini masih banyak rawa di sana-sini sehingga menjadi sumber penyakit terutama kematian balita yang amat tinggi.

Hal tersebut menjadikan „desa‟ ini pun mendapat julukan kinderkerkhof (kuburan anak bayi), terbukti pada waktu itu banyaknya kuburan anak balita di setiap halaman
rumah. (Kunto, 1996: 4)

Kota Bandung pada masa sebelum perang oleh Kolonial Belanda, memiliki fungsi yang sangat berat untuk disandang oleh sebuah kota kecil pada masa itu. Ada beberapa yang menonjol dari fungsi itu dengan adanya gagasan menjadikan Kota Bandung

sebagai ibu kota Hindia Belanda, yang diilhami dari laporan studi kelayakan kota ideal di Jawa, laporan itu disusun pada tahun 1918 oleh H.F. Tillema.

Diawali dengan peresmian Kota Cimahi sebagai Garnisun Militer pada September 1896, kemudian, pemindahan pabrik mesiu dari Ngawi, Jawa Timur dan Artillerie Constructie Winkel „ACW‟ atau pabrik senjata dari Surabaya ke Bandung pada 1898, yang kini dikenal dengan sebutan PINDAD.

Penjara militer dipindahkan dari Ngawi ke Pancol (Cimahi) pada akhir abad ke-19. Beberapa tahun kemudian, DVO dipindahkan dari Weltevreden (Jatinegara) ke Bandung pada tahun 1916.

Dari seluruh instansi pemerintah yang bersedia pindah, Hanya tiga yang menolak pindah ke Bandung, yaitu kantor sekretariat Gubernur Jenderal, Volksraad, serta Departemen Pendidikan dan Pengajaran.

Kota Bandung telah berulangkali mengalami pengembangan wilayah perkotaannya. Hal ini diakibatkan oleh jumlah penduduknya dari tahun ke tahun semakin meningkat. Seperti terlihat pada peta perkembangan pemekaran Kota Bandung, pada tahun

1906 luas wilayah kota hanya 900 Ha, dengan luas tanah yang ditempati 240 Ha. Pada tahun 1911, luasnya berkembang menjadi 2.150 Ha, dengan luas tanah yang ditempati bangunan meningkat menjadi 300 Ha. Begitu seterusnya, sehingga pada tahun 2005, Kota Bandung mempunyai penduduk sekitar 2.270.970 juta jiwa dan luas lahannya pun mengalami penambahan menjadi sebesar 16.729,65 Ha.

Pada zaman kemerdekaan, Bandung terus berbenah, pada tahun 1971 diterbitkannya Master Plan Kota Bandung, untuk mengembangkan kota dengan fungsi sebagai berikut : (a) Pusat Pemerintahan, (b) Pusat Perguruan Tinggi, (c) Pusat Perdagangan, (d) Pusat Industri, (e) Pusat Kebudayaan dan Pariwisata.

Fungsi Kota Bandung yang berat itu, kemudian DPRD Kota Bandung menetapkan Rencana Induk Kota (RIK) Bandung 1971-1991 (Surat Keputusan DPRD No. 8938/1971) dan RIK 1985- 2005 (Perda Nomor 3 Tahun 1986).

Dalam RIK 2005 ditetapkan kebijakan perlunya pemindahan sebagian fungsi kegiatan Kota Bandung dengan menambah luas lahan baru melalui Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 1987 tentang Perluasan Wilayah Administrasi Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung.

Luas wilayah administrasi Kota Bandung berubah dari 8.096 Ha menjadi 16.729,650 Ha.

Penutup

Bandung menjadi Ibu kota Priangan, dari sinilah munculnya Uga atau lebih tepatnya Uga Bandung, : Bandung heurin ku tangtung, Cianjur katalanjuran, Sukabumi tinggal resmi, Sumedang ngarangrangan, Sukapura ngadaun ngora, Galunggung ngadeg
tumenggung
„Bandung padat “penduduknya”, Cianjur hanya terlewati, Sukabumi hanya nama resmi, Sumedang tinggal meranggas, Sukapura akan maju, Galunggung
mengambil peran‟.

Pembangunan Kota Bandung yang terus meningkat, sehingga dewasa ini Kota Bandung menjelma menjadi sebuah kota metropolitan. Berdasarkan hal tersebut, maka Kota Bandung membuat Renstra Kota Bandung 2004- 2008, ditetapkan Visi Kota Bandung, yaitu ”Kota Bandung sebagai Kota Jasa yang BERMARTABAT (Bersih,
Makmur, Taat dan Bersahabat)”.

Pembangunan yang tidak diawasi dengan ketat menyebabkan pertumbuhan yang tidak terkendali, misalnya berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Badan Pengendalian
Lingkungan Hidup (BAPEDAL), sekarang Kementrian Lingkungan Hidup, tahun 1992 dan
Japan International Cooperation Agency (JICA) 1997, diketahui bahwa jumlah
pertumbuhan kendaraan di Kota Bandung mencapai 12 % per tahun.

Data Dinas Perhubungan, pada tahun 2001 total kendaraan bermotor 501.885 unit, tahun 2005 meningkat menjadi 821.562 unit, peningkatan terbesar terjadi pada sepeda motor dari 283.936 unit pada tahun 2001 menjadi 544.660 unit pada tahun 2005.

Melihat kenyataan Kota Bandung dewasa ini dan apa yang dikatakan dalam uga di atas, dapat ditarik kesimpulan sederhana yang menarik, yaitu:

  1. Bidang Ekonomi, tiap hari libur banyak pendatang dari kota lain yang berbelanja ke Bandung karena menjadi kota singgah, hal ini karena banyak bermunculan pusat perdagangan factory outlet. Disamping outlet, juga pedagang kaki lima, mal-mal iannya.
  2. Pembangunan fisik baik sarana dan prasarana yaitu pembangunan gedung, jalan dan lahan parkir yang sempit, kirang memadai dibanding dengan kebutuhan secara keseluruhan.
  3. Banyaknya ide, keinginan dan tujuan yang beragam, yang muncul dari para pembuat kebijakan menjadikan semakin maraknya Kota Bandung.
  4. Bidang budaya/seni, dengan munculnya berbagai jenis kesenian dapat dijadikan salah satu barometer pencapaian kreatifitas di Kota Bandung.
  5. Bidang lingkungan hidup, dengan banyaknya penduduk, mengakibatkan mundurnya keseimbangan alam atau kerusakan lingkungan.
Daftar Pustaka

Coolsma, S. 1913. Soendaneesch – Hollands Woordenboek. AW. Sijthoff’s Uitgeevers-Maatschappij, Leiden

Eringa, FS. 1984, Soendaas – Nederlands Woordenboek. Foris Publications Holland, Dordrecht – Holland/Cinnaminson – USA

Hardjasaputra. Sobana 1999. Sejarah Kota Bandung 1810 – 1906. Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandung

Heyne, K. 1950. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jilid 1 s.d IV Balai Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Departemen Kehutanan

Kunto, Haryoto. 1984. Wajah Bandoeng Tempo Doeloe. Bandung. PT. Granesia

Satjadibrata. 1948. Kamoes Basa Soenda. Djakarta: Bale Poestaka

Bandung dalam Angka, 2005

BPS Kota Bandung Tahun 1961 – 2006

BPS Kota Bandung 2006

Kota Madya Bandung dalam Angka Tahun 1989

Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung 2005-2013

Sumber

Judul: Sejarah Kota Bandung dari “Bergdessa” (Desa Unik) Menjadi Bandung “Heurin Ku Tangtung” (Metropolitan)

Penyusun: Nandang Rusnandar, Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional Bandung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *