Pendekatan Lean Thinking dengan Metode RCA untuk Mengurangi Waste pada Peningkatan Kualitas Produksi (Part 2)

Part 1

Teori Dasar Kualitas

Berikut ini adalah beberapa dari definisi kualitas yang dikemukakan oleh beberapa
pakar kualitas (dalam Tjiptono, 2000), antara lain :

  1. Josep M. Juran
    Menurut Juran, definisi kualitas adalah kesesuaian atau kecocokan untuk pemakaian (
    fitness for use). Definisi yang dikemukakan Juran ini lebih berorientasi pada pemenuhan keinginan pelanggan.
  2. W. Edwards Deming
    Deming mendefinisikan kualitas sebagai suatu tingkatan yang dapat diprediksi dari keseragaman dan ketergantungan pada biaya yang rendah dan sesuai dengan pasar.
  3. Taguchi
    Definisi kualitas menurut Taguchi adalah kerugian yang ditimbulkan oleh suatu produk setelah produk tersebut dikirim.
  4. Philip B. Crosby
    Definisi kualitas menurut Crosby adalah kesesuaian dengan persyaratan . Crosby menyatakan pentingnya melibatkan setiap orang dalam organisasi pada proses, yaitu dengan jalan menekankan kesesuaian indivitual dengan persyaratan.
  5. ISO 8402
    Menurut ISO 8402, kualitas didefinisikan sebagai totalitas dari karakteristik suat produk yang menunjang kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan yang dispesifikasikan atau diterapkan.
  6. Goetsch dan Davis
    Definisi kualitas yaitu bahwa kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melebih harapa.
Lean Thinking

Menurut Gasperz (2006), Lean didefinisikan sebagai suatu pendekatan sistemik dan sistematik  untuk mengidentifikasi dan menghilangkan pemborosan atau aktivitas yang tidak bernilai tambah melalui peningkatan terus- menerus secara radikal (radical continuous improvement) dengan cara mengalirkan produk (material, work in process, produk akhir) dan informasi menggunakan system tarik (pull system) dari pelanggan internal dan eksternal untuk mengejar keunggulan dan kesempurnaan (Gaspersz,2007).

Prinsip Lean Thinking adalah mencari cara untuk proses penciptaan nilai dengan urutan terbaik yang dimungkinkan, menyusun aktivitas ini tanpa interupsi, dan menjalankannya secara lebih efektif. Lean Thinking menyediakan cara untuk melakukan lebih dengan semakin sedikit usaha manusia, peralatan, waktu dan ruang, tetapi semakin dekat dengan keinginan konsumen (Reidenbach dan Goeke, 2006).

Lean Manufacturing

Lean Manufacturing menyaring intisari dari pendekatan Lean ke dalam lima langkah utama (Hines and Taylor, 2000) : Terdapat lima prinsip dasar Lean, yaitu sebagai berikut (Hines and Taylor, 2000) :

  1. Specify value, menentukan hal apa saja yang menciptakan dan tidak menciptakan nilai dari perspektif customer dan bukan dari perspektif perusahaan, fungsi, dan departemen. 
  2. Eliminate waste, mengidentifikasi semua langkah yang dibutuhkan untuk perancangan, pemesanan, dan produksi produk yang mencakup whole value stream untuk mengetahui dan mengeliminasi non-value added activities dan waste dalam proses. 
  3. Make value flow, menentukan tindakan-tindakan yang menciptakan aliran nilai tanpa adanya gangguan, pengulangan, aliran balik, menunggu, maupun sisa produksi. 
  4. Pull value, hanya membuat apa yang diinginkan customer. Customer menentukan permintaan melalui order yang diberikan. Prinsip ini mengeliminasi kebutuhan akan penyimpanan inventory yang berlebih dan modal yang lebih irit. 
  5. Pursue perfection, berusaha keras mencapai kesempurnaan dengan jalan menghilangkan lapisan berturut-turut dari waste yang ditemukan secara kontinyu. Continuous improvement atau perbaikan berkelanjutan diperlukan untuk mengeliminasi waste dari resources yang ada.
Proposisi Penelitian

Preposisi adalah bagian yang mengarahkan perhatian peneliti kepada sesuatu yang harus diteliti dalam ruang
lingkup penelitiannya Pada penelitian ini, berfokus kepada pengurangan
waste yang terjadi pada proses produksi yang nantinya akan berdampak pada pemberian alternatif solusi yang dapat meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan perusahaan secara lebih efisien dan efektif.

Metode Penelitian

Dalam rancangan penelitian ini, peneliti akan menjelaskan jenis penelitian yang dilakukan ditinjau dari dua aspek, yaitu : wawancara dan observasi dimana datanya berupa data primer dan sekunder dengan metode kualitatif.

Batasan dalam penelitian ini adalah karyawan yang bekerja di PT.SIERAD PRODUCE, Tbk dan beberapa divisi yang terkait yang mengetahui alur proses aktivitas yang berhubungan dengan produksi pada perusahaan tersebut. Peneliti menggunakan perumusan masalah sebagai strategi yang digunakan untuk menjawab bagaimana atau mengapa dalam rumusan masalah.

Peneliti menggunakan observasi langsung ke objek yang bersangkutan untuk mengetahui proses produksi yang ada di PT.Sierad Produce,Sidoarjo. Selain itu batasan pada penelitian adalah divisi – divisi yang berkaitan dengan aktivitas proses produksi. Unit analisis dalam penelitian ini adalah proses yang berkaitan dengan produksi yang dilakukan di PT.SIERAD PRODUCE,Tbk.

Selain itu, kriteria penentuan unit analisanya sebagai berikut:

  1. Envirolmental, Health and Safety (EHS)
  2. Defact
  3. Overproduction
  4. Waiting
  5. Not Utilizing Employees Knowledge, Skill and Abilities
  6. Transportation
  7. Inventory
  8. Motion
  9. Excess Processing
Jenis Data dan Metode Pengumpulan Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah jenis data primer. Jenis data primer adalah jenis data yang secara langsung didapat dari sumbernya, yaitu dengan cara:

  1. Pengisian kuisioner terhadap Divisi Produksi untuk mengetahui waste kritis yang sedang di alami oleh perusahaan tersebut. 
  2. Melakukan observasi secara langsung diperusahaan untuk mengetahui workflow dari masing-masing divisi. Observasi ini ditujukan kepada divisi-divisi terkait untuk mengetahui proses pembuatan sebuah produk sampai kepada penjualan ke calon konsumen. Dari hasil observasi tersebut, barulah peneliti dapat melakukan wawancara awal (early interview).
  3. Melakukan wawancara awal secara mendalam (early interview) terhadap departemen produksi setelah peneliti melakukan observasi langsung. Hal ini diperuntukkan agar peneliti mengetahui seberapa waste ini berpengaruh terhadap kinerja perusahaan.
    Peneliti akan melihat secara detail melalui hasil wawancara terkait dengan segala aktivitas yang terdapat di masing-masing divisi tersebut. Sehingga, peneliti dapat melakukan pemetaan
    Lean pada tipe aktivitas. Instrumen pertanyaan akan disesuaikan setelah peneliti mendapatkan hasil dari kuisioner pada identifikasi waste.
  4. Melakukan pemetaan terhadap hasil wawancara terkait dengan besarnya tingkat aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value added activity) pada perusahaan, sehingga peneliti dapat melakukan simpulan awal mengenai aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value added activity) pada proses produksi. Peneliti kemudian melakukan wawancara mendalam (depth-in interview) atas hasil analisa pada Lean tipe aktivitas.
  5. Melakukan wawancara mendalam (depth-in interview) untuk mengetahui faktor-faktor kritis yang menyebabkan waste tersebut terjadi pada salah satu divisi. Faktor-faktor kritis tersebut kemudian dirumuskan ke dalam factor casual table dengan tujuan agar peneliti mengetahui penyebab-penyebab kritis atas waste yang terjadi.
Kriteria untuk Menginterpretasikan Temuan

Pada proses pembuatan pakan ternak, aktivitas-aktivitas yang ada di dalam proses tersebut akan menjadi lebih efisien jika perusahaan beserta karyawan dapat melakukan reducing pada waste kritis yang terjadi sesuai dengan pendekatan 9 Model Lean Approach (E-DOWNTIME).

Dengan begitu perusahaan dapat mengetahui waste kritis yang timbul di dalam proses pembuatan produk dan akhirnya dapat mencari alternatif solusi pada pengurangan aktivitas-aktivitas yang tidak bernilai tambah (non-value added activity) dan melakukan perubahan atas aktivitas tersebut.

Root Cause Analysis

Metode ini digunakan setelah melakukan pemetaan terhadap aktivitas-aktivitas yang berpotensi menimbulkan waste dan merupakan aktivitas-aktivitas non-value added. Metode ini digunakan untuk mengetahui penyebab-penyebab apa sajakah yang menyebabkan terjadinya waste pada suatu aktivitas atau proses.

Sifat penggunaan metode ini adalah dengan melakukan identifikasi kepada aktivitas-aktivitas berpotensi pada waste dan melakukan identifikasi penyebab awal hingga akhir pada aktivitas tersebut. Dari hasil identifikasi tersebut, barulah peneliti dapat melakukan beberapa alternatif solusi untuk memperbaiki aktivitas-aktivitas tersebut. Teori Root Cause Analysis.

Menurut Jucan (2005), RCA (Root Cause Analysis) merupakan suatu metodologi untuk mengidentifikasi dan mengoreksi sebab-sebab yang penting dalam permasalahan operasional dan fungsional. Metode RCA sangat berguna untuk menganalisis suatu kegagalan sistem tentang hal yang tidak diharapkan yang terjadi, bagaimana hal
itu bisa terjadi, dan mengapa hal itu bisa terjadi.

Tujuan dari penggunaan RCA adalah untuk mengetahui penyebab masalah atau kejadian untuk mengidentifikasi akar-akar penyebab masalah tersebut. Jika akar penyebab dari suatu masalah tidak teridentifikasi, maka hanya akan mengetahui gejalanya saja dan masalah itu sendiri akan tetap ada.

Dengan demikian RCA sangat baik digunakan untuk mengidentifikasi akar dari suatu masalah yang berpotensial dapat menimbulkan risiko operasional di bagian produksi.

Langkah-langkah RCA antara lain (Faith Chlander, 2004) :

  1. Mengidentifikasi dan memperjelas definisi undesired outcome.
  2. Mengumpulkan data
  3. Menempatkan kejadian-kejadian dan kondisikondisi pada event and causal factor table (tabel kejadian dan faktor penyebab).
  4. Gunakan tabel penyebab atau metode yang lain untuk mengidentifikasi seluruh penyebab yang berpotensi.
  5. Mengidentifikasi mode kegagalan sampai pada mode kegagalan paling bawah.
  6. Lanjutkan pertanyaan “mengapa?” untuk mengidentifikasi root causes yang paling kritis.
Analisa Temuan dan Penarikan Kesimpulan

Pada tahapan ini, peneliti akan memberikan analisis atas hasil temuan yang telah didapatkan dari hasil Root Cause Analysis. Dari hasil tersebut, peneliti dapat memberikan beberapa alternatif – aletrnatif solusi kepada perusahaan tersebut agar pada period ke depan, tidak ada aktivitas waste pada kegiatan operasional perusahaan tersebut.

Bentuk dari aletrnatif solusi berupa hasil temuan yang didapatkan dari peneliti pada waste tipe aktivitas (value added, non – value added, necessary but non – value added).

Sumber

PENDEKATAN LEAN THINKING DENGAN METODE RCA UNTUK
MENGURANGI 
WASTE PADA PENINGKATAN KUALITAS PRODUKSI
(STUDI KASUS : PT.SIERAD PRODUCE,Tbk di SIDOARJO)

Penyusun: WIDYANINGRUM INDAH PERMATA SARI

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *