Pengantar Standardisasi (Part 1)

Pendahuluan

Mungkin kita tidak selalu menyadari keberadaan standar sekalipun hadir dimana pun kita berada dan telah memberi banyak manfaat nyata di bidang kehidupan. Hal ini bisa dimaklumi karena standar hadir tidak secara kasat mata. Kita lebih mudah mengenali langsung, misalnya mie instan, tanpa menyadari keberadaan persyaratan yang ditetapkan dalam standar untuk memproduksi mie instan agar dapat dikonsumsi secara aman dan sehat.

Begitu juga, misalnya kartu SIM (Subscriber Identity Module) pada telephon genggam yang sehari-hari digunakan, kita cenderung tidak memperhatikan bahwa kartu SIM dari telephon genggam tersebut telah dikembangkan berdasarkan spesiikasi yang ditetapkan dalam standar. Singkat kata, standar lebih sering hadir tanpa disadari, bahkan diabaikan atau dianggap biasa, sekalipun telah memberi kontribusi penting dalam kehidupan sehari-hari.

Boks 1 Standar dan Kehidupan Sehari-hari memberikan ilustrasi mengenai keberadaan standar dalam barang yang dipergunakan seharihari. Di sana juga dikemukakan bahwa standar mempengaruhi kehidupan sepanjang hari, terutama dalam memberikan keamanan, menjamin kualitas, memudahkan pengoperasian produk, serta memastikan kompatibilitas produk.

Pada kenyataannya, standar bukan hal baru dalam sejarah umat manusia. Manusia secara alamiah telah menerapkan standar sepanjang ribuan tahun yang lalu. Mulai dari memanfaatkan peralatan batu sederhana, kosa kata, bahasa primitif sebagai sarana komunikasi, aksara, gambar, patung dan tulisan untuk ekspresi diri.

Menurut para pakar sejarah, tulisan sebagai sarana komunikasi telah distandardisasikan ratusan tahun sebelum
Masehi dan kemudian secara bertahap berkembang menjadi sarana modern sebagaimana digunakan dewasa ini.
Boks 2 dan Boks 3 memberi bukti mengenai penerapan standar dalam sejarah pra-modern dan modern.

Boks 1. Standar dan Kehidupan Sehari-Hari

Hampir pada segala aspek kehidupan, standar mudah ditemukan jejaknya. Sebagai bangunan, rumah didirikan dengan aneka material berupa semen, besi, tegel, kaca, dan sebagainya.

Secara menyebar –mulai dari ruang tamu, kamar tidur, ruang makan, dapur hingga kamar mandi– berbagai peralatan dipergunakan, sebut saja: komputer, televisi, pemutar DVD, kipas angin, lemari es, pendingin ruangan, lampu pijar, blender, kompor dan tabung gas, dispenser, pompa air, dan sebagainya.

Di rumah juga tersedia bahan-bahan makanan, seperti: mi instan, air dalam kemasan, minyak goreng, garam dapur dan sebagainya yang disimpan untuk konsumsi sehari-hari. Di samping itu, masih ada aneka barang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, misalnya: sabun mandi, sikat dan pasta gigi, sampo, sabun cuci, dan lainnya.

Pada semua peralatan atau barang yang disebutkan di atas terdapat spesiikasi yang dikembangkan dalam standar untuk memberikan keamanan, menjamin kualitas, memudahkan pengoperasian produk, serta memastikan kompatibilitas.

Terlepas apakah berada di rumah, di kantor, dalam perjalanan ke suatu tempat, belajar atau bermain, bersantai menikmati waktu luang, standar selalu ada dan hadir menemani. Standar berperan dalam kehidupan 24 jam sehari, karenanya memberi pengaruh besar dalam berbagai aspek kehidupan, makanan, kesehatan, pendidikan, komunikasi, transportasi, konstruksi, furnitur, energi, dan sebagainya.

Standar memberikan keamanan dan keselamatan, menjamin mutu, memudahkan pengoperasian produk, serta memastikan kompatibilitas. Tanpa standar, anak-anak mudah mengalami cidera saat menggunakan mainan anak. Peralatan rumah tangga pun mudah rusak atau tidak mudah dioperasikan. Tanpa standar, kertas tidak akan
cocok di printer, DVD tidak akan cocok untuk diputar pada slotnya dan mur tidak muat pada baut.

Boks 2. Jejak Standar dalam Sejarah Pra-Modern

Standar telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia sejak jaman kuno. Jauh di masa lalu, manusia sudah akrab dengan standar.

Dapat ditambahkan bahwa masyarakat kuno mengandalkan pengetahuan mereka tentang pergerakan bulan, matahari, dan bintang-bintang di angkasa untuk menentukan waktu yang tepat untuk menanam atau memanen tanaman pangan mereka, untuk merayakan hari-hari yang penting, dan untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting.

Pengetahuan tersebut merupakan cikal bakal sistem penanggalan yang disepakati bersama dan digunakan secara seragam dan serentak. Selanjutnya, Revolusi Industri menjadi tonggak penting yang mengubah dunia. Revolusi Industri berpengaruh terhadap produksi massal di industri, melahirkan kapal laut tenaga uap dan kereta api yang sangat berpengaruh terhadap distribusi hasil produksi massal yang dilakukan oleh industri maupun hasil pertambangan, lalu ditemukannya radio, telegraph dan pesawat telepon, serta penemuan di bidang kimia.

Perkembangan yang dibawa oleh Revolusi Industri pun menyebar luas ke berbagai negara seperti Perancis, Jerman, Italia, Belanda, dan bahkan Amerika Serikat. Di bawah Revolusi industri berlangsung kemajuan pesat di tiga bidang utama, yaitu: transportasi, telekomunikasi dan kelistrikan. Kemajuan tersebut telah membawa perkembangan penting di bidang standardisasi.

Boks 3. Jejak Standarisasi dalam Sejarah Modern

Jejak Standardisasi dalam Sejarah Modern memuat perkembangan standardisasi yang berlangsung pesat sejak Revolusi Industri, di mana perkembangan kegiatan standardisasi tersebut telah melahirkan lembaga standardisasi
internasional terkemuka, terutama:
International Electrotechnical Commision (IEC), International Telecomunication Union (ITU), International Organization for Standardization (ISO), dan Codex Alimentarius Commission (CAC).

Sejarah Lembaga Standarisasi Dunia
International Telecommunication Union (ITU)

Keberhasilan melakukan hubungan telegraf jarak jauh terjadi di tahun 1844, di mana Samuel Morse (1791-1972) berhasil mengirimkan pesan publik antara Baltimore dan Washington. Pencapaian Morse menjadi titik awal meluasnya sistem jaringan telegraf yang menghubungkan Amerika ke daratan Eropa.

Pada tahun 1858, kabel telegraf transatlantik untuk pertama kali direalisasikan. Jaringan ini melintasi sejumlah negara, sehingga pengoperasiannya terbentur pada sejumlah masalah dan hambatan. Untuk mengatasi masalah dan hambatan serta membuat layanan telegraf trans-atlantik lebih efisien, 20 negara berhimpun dalam International Telegraph Conference di Perancis tahun 1865.

Konferensi ini menghasilkan kesepakatan internasional telegraf (International Telegraph Convention) pertama, dan dibentuk International Telegraph Union untuk mengawasi perjanjian. Pada tahun 1903 ITU mulai kegiatan standardisasinya pertama-tama dengan menyusun regulasi (peraturan) bidang telegrafi nirkabel, yang kemudian dikembangkan menjadi Radio Regulations.

Pada tahun 1932 International Radiotelegraph Convention (IRC) bergabung ke dalam International Telegraph Union. Penggabungan tersebut mengubah nama International Telegraph Union menjadi International Telecommunication Union di tahun 1934.

International Electrotechnical Commission (IEC)

Berbeda dengan kegiatan ITU yang dari awal sudah bersifat internasional, di bidang kelistrikan standardisasi mulai berkembang sebagai kegiatan nasional. Perlu disebut peran pakar ilmu dan penemu seperti Volta, Ampère, Ohm, Edison, Tesla Marconi dan ahli-ahli lainnya.

Teori baru dan usaha penemu tadi membuka era baru perkembangan teknologi dan industri kelistrikan. Perusahaan generator, lampu pijar, fiting dan kabel di masing-masing negara berkembang pesat. Setiap negara memiliki arus searah dengan voltage berbeda, arus bolak balik dengan frekuensi 25 atau 60 cycle dan dengan 1, 2 atau 3 fasa.

Jelas bahwa sektor industri ini sangat memerlukan dukungan kegiatan standardisasi, terutama terkait dengan satuan dan standar di bidang kelistrikan. Pada tahun 1904 diselenggarakan International Electrical Congresses di St. Louis, Amerika Serikat, dihadiri delegasi kelompok insinyur dan ilmuwan dari 15 negara, di antaranya Argentina, Amerika Serikat, Perancis, Inggris, Jerman dan Swiss.

Pada kongres internasional tersebut diajukan usulan untuk mendirikan komisi internasional permanen di bidang standardisasi mengenai mesin dan peralatan listrik. Jadi, International Electrical Congresses di St. Louis merupakan titik awal fokusnya kegiatan standardisasi internasional di bidang kelistrikan.

Akhirnya di tahun 1906 dibentuk IEC (International Electrotechnical Commision). Bahasa yang digunakan dalam publikasi IEC adalah bahasa Perancis, Inggris, Jerman, Itali, Spanyol dan Esperanto.

International Organization for Standardization (ISO)

Di tahun 1926 dibentuk International Federation of the National Standardizing Associations (ISA). Organisasi ini fokus pada rekayasa mekanis (mechanical engineering). Selama Perang Dunia II, tepatnya di tahun 1942, ISA dibubarkan.

Seusai perang dunia, Komite Koordinasi Standar PBB (United Nations Standards Coordinating
Committee
/UNSCC) yang baru dibentuk, mendekati ISA dan mengajukan usulan untuk membentuk badan standar internasional yang baru.

Pada bulan Oktober 1946, di London, Inggris, delegasi ISA dan UNSCC dari 25 negara bertemu dan setuju untuk membentuk International Organization for Standardization (ISO). ISO mulai beroperasi pada tanggal 23 Februari 1947 dengan kantor pusat di Jenewa, Swiss.

ISO merupakan organisasi internasional yang mengembangkan, mengkoordinir dan menetapkan standar voluntary (selain standar kelistrikan) untuk mendukung perdagangan global, meningkatkan mutu, melindungi kesehatan dan keselamatan/keamanan konsumen dan masyarakat luas, melestarikan lingkungan serta mendiseminasikan informasi dan memberikan bantuan teknis di bidang standardisasi.

Codex Alimentarius Commission (CAC)

Selain ITU, IEC dan ISO yang menangani standardisasi internasional, dikenal pula adanya Codex Alimentarius Commission (CAC). CAC merupakan badan internasional yang diberi mandat untuk mengembangkan standar pangan dan teks terkait dalam rangka melindungi kesehatan konsumen dan menjamin praktek yang jujur dalam
perdagangan pangan internasional.

CAC dibentuk atas dasar Joint FAO/WHO Food Standards Programme (program standar pangan FAO/WHO), pada tahun 1963. Standar Codex dipublikasikan agar dapat digunakan sebagai panduan atau referensi bagi Negara anggota Codex dalam mengembangkan dan merevisi standar atau regulasi di bidang pangan, dalam rangka melakukan harmonisasi secara internasional.

Penerapan standar Codex bersifat voluntary. Namun apabila terjadi perselisihan dalam perdagangan
internasional, standar Codex diacu sebagai rujukannya.

Di tanah air, kegiatan standardisasi juga berlangsung dan berkembang. Di masa penjajahan, standar dijadikan sebagai sarana pendukung kegiatan ekonomi kolonial sehingga dapat berjalan dengan lancar. Standar diterapkan dalam pembangunan jalan raya di bagian utara pulau Jawa, pelabuhan, jalan kereta api, pembukaan areal perkebunan, pendirian jaringan irigasi, dan pembangunan pabrik gula.

Kegiatan standardisasi di Indonesia mendapat penegasan melalui Keputusan Presiden Nomor 13 Tahun 1997 yang di dalamnya menyatakan pembentukan Badan Standardisasi Nasional (BSN). Mengingat Indonesia telah ikut serta dalam persetujuan pembentukan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization).

Di dalamnya mengatur pula masalah standardisasi dengan kewajiban untuk menyesuaikan peraturan perundangundangan nasional di bidang standardisasi, pada tahun 2000 pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 102 tahun 2000 tentang Standardisasi Nasional menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 15 Tahun 1991 dan Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 1991.

Tonggak penting perkembangan standardisasi dicapai dengan disahkannya UndangUndang No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi dan Penilaian Kesesuaian (UU SPK) oleh Dewan Perwakilan Rakyat RI.

Sumber

Judul: Pengantar Standardisasi, Edisi 2

Penyusun:

Badan Standarisasi Nasional, ISBN : 978-602-9394-16-0

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *